Jakarta – Rupiah diprediksi melemah terhadap dolar AS pada pekan depan.
Pemicunya adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah serangan Israel ke Iran.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai rupiah berpotensi kembali tertekan.
Pelemahan sebelumnya disebabkan perang dagang AS, termasuk kenaikan bea masuk produk Indonesia.
“Ini mengindikasikan bahwa perang dagang antara Indonesia dan AS kembali memanas,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026).
Kombinasi perang dagang dan konflik Timur Tengah berpotensi memperparah pelemahan rupiah.
Ibrahim memperkirakan rupiah bisa mencapai Rp 17.000 per dolar AS pada pekan depan.
Bank Indonesia (BI) diharapkan melakukan intervensi untuk mengantisipasi pelemahan ini.
Tujuannya agar pelemahan rupiah tidak terlalu dalam.
Pada penutupan perdagangan Jumat (27/2/2026), rupiah melemah 28 poin ke Rp 16.793 per dolar AS.








