Ecozone

IHSG Sesi I Menguat ke 6.074 Meski Saham LQ45 Lesu

16
×

IHSG Sesi I Menguat ke 6.074 Meski Saham LQ45 Lesu

Sebarkan artikel ini
9ba8295580fc6f9c87a3b2715434b480.jpg
9ba8295580fc6f9c87a3b2715434b480.jpg

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan sebesar 0,61% ke level 6.074 pada perdagangan sesi pertama hari Selasa (14/7/2026), didorong oleh dominasi sentimen positif di mayoritas sektor pasar modal domestik.

Dilansir dari Bursa Efek Indonesia (BEI), aktivitas perdagangan mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp 10,22 triliun dengan volume mencapai 21,83 miliar saham yang melibatkan frekuensi transaksi sebanyak 1,83 juta kali.

Kinerja indeks yang berada di zona hijau ini terjadi di tengah perlambatan pada indeks prestisius LQ45 yang justru terkoreksi sebesar 0,15% akibat tekanan pada sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar.

Saham perbankan raksasa mengalami koreksi signifikan, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 1,20% ke level Rp 6.150, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 1,05% ke posisi Rp 2.480, serta PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tergelincir 1,41% ke harga Rp 4.190.

Secara keseluruhan, pasar mencatat sebanyak 421 saham mengalami penguatan, 182 saham terkoreksi, dan 187 saham lainnya stagnan, dengan total kapitalisasi pasar IHSG mencapai Rp 10.615 triliun.

Dari total sebelas sektor yang tercatat di BEI, sebanyak sembilan sektor berhasil bergerak di zona penguatan, dengan sektor infrastruktur mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 1,78%.

Kenaikan sektor infrastruktur utamanya ditopang oleh saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang melesat 6,19% ke angka Rp 3.430 per lembar saham.

Sentimen positif pasar domestik ini sejalan dengan tren di bursa saham Asia, di mana indeks Straits Times naik 0,10%, Shanghai Composite tumbuh 0,03%, Nikkei menguat 0,38%, dan Hang Seng mendaki 0,28%.

Daftar saham yang masuk dalam kategori top gainers meliputi PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) yang naik 13,85% ke Rp 740, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) melonjak 9,43% ke Rp 580, serta PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) yang menguat 25% ke Rp 340.

Sementara itu, saham yang masuk dalam jajaran top losers adalah PT Niramas Utama Tbk (JELI) yang turun 11,37% ke Rp 1.130, PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) melemah 3,23% ke Rp 90, dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) terkoreksi 1,91% ke Rp 1.025.

Analisis pasar menunjukkan bahwa disparitas antara pergerakan IHSG secara umum dengan indeks LQ45 mencerminkan adanya rotasi portofolio yang dilakukan oleh investor di tengah dinamika sektor infrastruktur.

Kondisi pasar yang variatif ini menegaskan bahwa meskipun sektor perbankan mengalami tekanan, antusiasme investor terhadap saham-saham di luar kelompok perbankan masih tetap terjaga dengan cukup kuat.

Para pelaku pasar saat ini terus memantau perkembangan kebijakan strategis di sektor energi dan infrastruktur yang dapat mempengaruhi fundamental emiten terkait di masa depan.

Stabilitas nilai transaksi yang mencapai belasan triliun rupiah menunjukkan bahwa likuiditas di pasar modal Indonesia tetap terjaga di tengah fluktuasi harga saham yang terjadi pada sesi perdagangan hari ini.

Investor disarankan untuk tetap memperhatikan rilis data ekonomi regional yang menjadi acuan utama dalam menentukan langkah investasi selanjutnya di tengah ketidakpastian pasar global.