BeritaPemerintahanPolitik

Golkar Sebut Krisis Listrik Berawal Saat Arifin Tasrif Menjabat ESDM

12
×

Golkar Sebut Krisis Listrik Berawal Saat Arifin Tasrif Menjabat ESDM

Sebarkan artikel ini
tanggapi-politisi-pdip,-arf:-krisis-listrik-efek-batubara-terjadi-sejak-menteri-sebelumnya
tanggapi politisi pdip, arf: krisis listrik efek batubara terjadi sejak menteri sebelumnya

Jakarta – Sekretaris Bidang Ekonomi dan Kebijakan Publik DPP Partai Golkar, Abdul Rahman Farisi, menanggapi sindiran politisi PDI Perjuangan Deddy Sitorus yang mengaitkan Partai Golkar dengan persoalan kelistrikan. Ia meminta kritik itu dilihat secara objektif dengan menimbang rekam jejak masalah energi nasional secara menyeluruh.

Abdul Rahman mengingatkan, Indonesia pernah menghadapi ancaman krisis pasokan batu bara untuk pembangkit listrik PLN pada 2022, saat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dipimpin Arifin Tasrif. Pada periode itu, pemerintah mengakui pasokan batu bara untuk pembangkit listrik berada dalam kondisi kritis akibat rendahnya pemenuhan kewajiban pasokan domestik atau Domestic Market Obligation (DMO) oleh sejumlah perusahaan tambang.

“Pak Deddy pernah membela Arifin Tasrif sebagai menteri yang direkomendasikan PDIP. Karena itu, Pak Dedy jangan amnesia politik. Lupa bahwa krisis batu bara PLN juga terjadi pada masa beliau,” kata Abdul Rahman, Senin (22/6).

Ia menilai pernyataan itu perlu disampaikan agar publik memahami bahwa persoalan listrik dan ketahanan energi bukan masalah baru yang muncul dalam beberapa bulan terakhir. Menurut dia, tantangan tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun dan memerlukan penyelesaian jangka panjang.

Abdul Rahman juga menilai tidak tepat jika setiap gangguan kelistrikan saat ini langsung diarahkan sebagai kesalahan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia maupun Partai Golkar. Sebab, persoalan energi merupakan isu yang kompleks dan lintas waktu, dengan banyak faktor yang memengaruhi mulai dari pasokan energi primer, infrastruktur, hingga tata kelola sektor energi secara keseluruhan.

Ia turut menyoroti sikap Deddy Sitorus saat pergantian Menteri ESDM pada 2024 yang secara terbuka mempertanyakan pencopotan Arifin Tasrif. Deddy kala itu menyebut Arifin sebagai sosok yang direkomendasikan oleh PDIP.

Menurut Abdul Rahman, jika Deddy ingin mengkritik kondisi energi saat ini, kritik itu semestinya disampaikan secara konsisten. Ia menilai, tantangan serupa juga pernah terjadi pada masa menteri yang selama ini dibela Deddy.

“Bahkan kalau mau menghitung waktu Pak Bahlil itu belum cukup 2 Tahun menjabat Menteri ESDM dibandingkan kawannya pak Dedi menjadi Menteri ESDM selama 4 tahun, mestinya lebih memiliki waktu dalam menyelesaikan kelistrikan yang terkait dengan pembangkit, jaringan dan batubara,” ujarnya.

Lebih lanjut, Abdul Rahman menegaskan fokus utama Menteri Bahlil saat ini di sektor kelistrikan adalah membangun pembangkit baru untuk PLN dan menerangi ribuan desa yang belum menikmati layanan listrik. Ia menyebut visi Presiden Prabowo tentang listrik merupakan program prioritas untuk mewujudkan swasembada dan ketahanan energi.

“Masyarakat membutuhkan solusi, bukan saling menyalahkan. Yang terpenting adalah memastikan pasokan energi nasional tetap aman dan pelayanan listrik kepada masyarakat terus terjaga,” tutup Abdul Rahman.