Fenesia – Fiersa Besari adalah seorang musisi muda yang sekaligus juga penulis era milenial. Auranya yang magical membuat sosok Fiersa Besari ini berhasil menembus pasar indie tanah air
Fiersa Besari bisa dibilang konsisten untuk menyajikan lirik-lirik yang manis sekaligus puitis di tiap-tiap lagunya. Ia memang dikenal sebagai penyuka sastra sejak dulu. Selain mempunyai kekuatan di lirik-liriknya, suaranya pun langsung familiar di telinga orang indonesia.
Fiersa Besari mengawali karirnya pada tahun 2012 dengan album berjudul “11:11”. Namanya semakin melejit ketika album Tempat Aku Pulang rilis pada tahun selanjutnya yaitu 2013. Lagu-lagunya cepat diterima di telinga penikmat musik tanah air.
Dilanjutkan dengan album Konspirasi Alam Semesta pun masih memanjakan telinga kita dengan kualitas musik dan liriknya yang semakin bagus.
April 2013, pria yang akrab disapa Bung ini memilih berkeliling Indonesia.

Dia mencoba mencari jati diri dan memahami arti dari sebuah perjalanan. Selama delapan bulan, Fiersa mulai menjelajah dari kota asalnya di Bandung lalu ke Sumatera sampai Titik Nol di Pulau Sabang.
Berlanjut ke Sulawesi sampai Jayapura di Tanah Papua. Fiersa tak lagi menjadi musisi indie yang mencari keeksisan dalam berkarya.
Sejak buku ‘Garis Waktu’ diterbitkan Fiersa Besari mantap berkiprah sebagai penulis. “Dari awal musik dulu, menulis itu bagi saya cuma senang-senang saja. Bukan jadi pembaca buku yang gila, tapi intensitas membaca saya sudah lebih baik dari dulu,” ungkap Fiersa di salah satu siaran TV
Karakter vokalnya yang amat khas, musiknya yang sederhana namun memanjakan telinga, sekaligus lirik-liriknya yang penuh dengan makna menjadi daya tarik tersendiri.
Hingga saat ini Fiersa Besari sudah menerbitkan 6 buku yaitu
Garis Waktu (2016), Konspirasi Alam Semesta (2017), Catatan Juang (2017), Arah Langkah (2018), 11:11 (2018), Tapak Jejak (2019) dan lebih dari 10 lagu yang mampu menghipnotis masyarakat Indonesia, terutama muda-mudi.












