Berita

ESDM Dorong Penerapan Teknologi VRS, Lindungi Masyarakat dan Lingkungan

169
×

ESDM Dorong Penerapan Teknologi VRS, Lindungi Masyarakat dan Lingkungan

Sebarkan artikel ini
kementerian-esdm-buka-ruang-diskusi-penerapan-teknologi-vrs-di-spbu
kementerian esdm buka ruang diskusi penerapan teknologi vrs di spbu

Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuka peluang pembahasan penerapan teknologi Vapor Recovery System (VRS) di SPBU.

Tujuannya untuk memperkuat standar pengelolaan SPBU. Serta meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Staf Khusus Kementerian ESDM, Angga Wira menyampaikan hal ini. Ia juga merupakan Satuan Pengawas SKK Migas.

Pernyataan itu disampaikan dalam diskusi yang digelar Aliansi Jurnalis Video (AJV) bidang Lingkungan Hidup, Sabtu (14/3/2026).

Angga mengatakan pemerintah membuka ruang pembahasan lanjutan mengenai teknologi pengendalian uap bahan bakar di SPBU.

Pembahasan akan dilakukan melalui forum diskusi bersama berbagai pihak.

“Kementerian ESDM akan memfasilitasi diskusi lebih lanjut dengan Direktur Teknik Lingkungan untuk membahas hal ini,” kata Angga.

Pembahasan juga perlu mempertimbangkan kondisi usaha pengelola SPBU. Terutama terkait tekanan margin.

Investasi untuk satu unit mesin VRS mencapai sekitar Rp600 juta. Atau sekitar 10 persen dari total investasi SPBU.

Ahli pemasangan alat VRS, Baidi, menjelaskan bahwa teknologi ini mampu menangkap uap Volatile Organic Compounds (VOCs). Uap ini muncul dalam proses pengisian maupun penyimpanan bahan bakar di SPBU.

Sistem VRS memanfaatkan tekanan uap bahan bakar yang masuk ke dalam sistem. Kemudian diproses melalui penyulingan dan pendinginan hingga kembali menjadi bahan bakar.

“Prosesnya sekitar 30 menit hingga satu jam sampai menjadi bahan bakar kembali. Dari mesin awal, alat ini mampu menangkap sekitar 75–80 persen uap VOC,” kata Baidi.

Kehilangan bahan bakar akibat penguapan biasanya berkisar 0,12–0,2 persen atau sekitar 12 liter. Dengan teknologi tersebut, sebagian uap yang sebelumnya terlepas dapat ditangkap kembali.

Saat ini alat tersebut telah dipasang di sekitar 20 SPBU di wilayah Jabodetabek.

Mesin berukuran sekitar dua meter dengan panjang sekitar 180 sentimeter itu memiliki masa pakai antara lima hingga sepuluh tahun tergantung pada perawatan.

Teknologi tersebut masih diimpor dari Korea Selatan dengan harga sekitar Rp600 juta per unit.

Diskusi publik ini digelar oleh Aliansi Jurnalis Video (AJV) bidang Lingkungan Hidup. Tujuannya untuk memperkaya perspektif mengenai pengelolaan emisi uap bahan bakar di SPBU.

Ketua AJV, Chandra, mengatakan kegiatan ini merupakan diskusi ketiga terkait isu uap bahan bakar di SPBU. Ia berharap forum tersebut dapat mendorong lahirnya solusi yang memberi rasa aman bagi masyarakat saat berada di SPBU.

Teknologi penangkapan uap bahan bakar berpotensi memberi nilai ekonomi tambahan. Uap bensin yang selama ini terlepas ke udara dapat dikondensasikan kembali menjadi bahan bakar.