Jakarta – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mendesak Bank Indonesia (BI) untuk segera menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,00 persen. Langkah ini dinilai mendesak guna menahan pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus level terendah sepanjang sejarah di angka 17.600 per dolar AS pada 13 Mei 2026.
Peneliti LPEM FEB UI, Jahen F. Rezki, mengungkapkan bahwa otoritas moneter telah menguras cadangan devisa lebih dari US$ 10 miliar dalam empat bulan terakhir demi menjaga stabilitas mata uang. Kenaikan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) mendatang dipandang sebagai instrumen krusial untuk memperkuat upaya stabilisasi tersebut.
Sentimen senada disampaikan oleh Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian. Ia bahkan menyarankan langkah yang lebih agresif dengan kenaikan suku bunga hingga 50 basis poin. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah saat ini sudah menyentuh aspek fundamental, yakni kredibilitas jangkar kebijakan makroekonomi Indonesia.
Fakhrul menegaskan bahwa kebijakan pengetatan moneter ini bukan disebabkan oleh inflasi tinggi atau krisis ekonomi, melainkan sebagai langkah preventif. Tujuannya agar Indonesia tidak menanggung beban ekonomi yang lebih berat di masa depan akibat hilangnya kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan makroekonomi domestik.
Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo telah mengisyaratkan bahwa ruang untuk memangkas suku bunga semakin tertutup. Fokus bank sentral saat ini sepenuhnya tertuju pada stabilitas rupiah di tengah kuatnya indeks dolar AS, yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah.
Dalam rapat bersama Komisi XI DPR, Perry menegaskan perlunya rekalibrasi kebijakan untuk mengantisipasi aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan domestik. BI berkomitmen untuk terus menyikapi dinamika global demi menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Adapun RDG Bank Indonesia untuk menentukan arah kebijakan suku bunga berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 19-20 Mei 2026. Hingga saat ini, BI-Rate masih bertahan di level 4,75 persen.














