Berita

China Operasikan Pusat Data Bawah Laut Pertama Bertenaga Angin di Shanghai

13
×

China Operasikan Pusat Data Bawah Laut Pertama Bertenaga Angin di Shanghai

Sebarkan artikel ini
china-bikin-pusat-data-tenaga-angin-di-bawah-air,-ini-tujuannya
china bikin pusat data tenaga angin di bawah air, ini tujuannya

Jakarta – China resmi mengoperasikan pusat data bawah air pertama di dunia yang ditenagai oleh energi angin. Fasilitas dengan kapasitas 24 megawatt (MW) tersebut mulai beroperasi di lepas pantai Shanghai sejak Mei 2026.

Proyek yang dijuluki The Shanghai Lingang ini merupakan bentuk kolaborasi antara HiCloud Technology dan perusahaan pelat merah, China Communication Construction. Nilai investasi untuk membangun infrastruktur mutakhir ini mencapai 1,6 miliar yuan.

Pembangunan fasilitas ini merupakan bagian dari langkah strategis Beijing dalam mendukung rencana aksi kecerdasan buatan (AI) yang dirilis pemerintah tahun lalu. Pemerintah China menargetkan percepatan pembangunan pusat data sekaligus berkomitmen memastikan pasokan energi bersih yang signifikan bagi infrastruktur AI hingga 2030 mendatang.

Fasilitas tersebut ditenggelamkan pada kedalaman 10 meter di bawah permukaan laut, dengan jarak lebih dari 10 kilometer dari garis pantai Shanghai. Data pemerintah setempat menunjukkan bahwa pusat data bawah air ini mampu menekan konsumsi daya hingga lebih dari 20 persen dibandingkan dengan fasilitas konvensional di darat.

Efisiensi energi ini didapat karena sistem pendingin memanfaatkan suhu air laut secara langsung. Sebagai perbandingan, pusat data konvensional biasanya mengonsumsi 25 hingga 40 persen total listrik hanya untuk operasional pendingin air guna mencegah overheating pada server.

Selain efisiensi listrik, penempatan di bawah laut juga memangkas penggunaan air tawar secara drastis. Selama ini, konsumsi air tawar dalam jumlah besar menjadi salah satu kendala utama operasional pusat data konvensional yang menopang teknologi AI.

Sebagai gambaran, laporan Institute for Water, Environment and Health dari Universitas PBB (UNU) memproyeksikan jejak air (water footprint) pusat data global akan mencapai 9,3 triliun liter pada 2030. Angka tersebut setara dengan kebutuhan air domestik tahunan bagi 1,3 miliar penduduk di kawasan sub-Sahara Afrika.

Sistem operasional di Lingang sepenuhnya bergantung pada tenaga angin lepas pantai. Hal ini menjadi pembeda utama dibandingkan proyek komersial bawah air pertama HiCloud di Pulau Hainan pada 2023 yang belum terintegrasi dengan energi angin.

Meskipun China bukan pionir dalam konsep ini, langkah mereka dinilai yang paling progresif. Sebelumnya, Microsoft diketahui pernah meluncurkan proyek serupa di perairan Orkney, Skotlandia, pada 2018, namun proyek tersebut kini tidak lagi berlanjut.

Dosen Hong Kong Polytechnic University, Hanjiang Dong, menilai Microsoft memang lebih awal dalam membuktikan konsep tersebut. Namun, China dinilai telah melangkah lebih jauh ke tahap penyebaran komersial yang masif.

Ia menambahkan, hal ini dimungkinkan karena China mampu menyatukan permintaan pasar, kemampuan industri, teknik kelautan, serta dukungan kebijakan pemerintah dengan lebih cepat.

Di sisi lain, keberadaan fasilitas ini tetap membawa risiko lingkungan, seperti potensi gangguan pada sedimen laut dan peningkatan suhu air di sekitar lokasi penempatan. Kendati demikian, sejumlah pakar menilai dampak tersebut masih berada dalam batas aman dan dapat dikelola dengan baik.