Surabaya – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhaimin Iskandar, menyoroti praktik pembangunan gedung pondok pesantren yang kerap melibatkan santri tanpa pengawasan ahli teknik.
Sorotan ini muncul pasca-tragedi ambruknya gedung di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Senin (29/3), yang diduga melibatkan santri dalam proses pengecoran.
“Itulah keprihatinan kita, nanti harus kita ubah semua pola kepada pesantren, tidak boleh membangun sendiri, harus ada tim teknisi,” tegas Cak Imin saat meninjau lokasi kejadian, Kamis (2/10) sore.
Cak Imin menegaskan, gotong royong membangun pesantren diperbolehkan, namun harus berlandaskan ilmu dan perhitungan teknik yang matang.
“Gotong royong itu boleh, tetapi bahwa harus ada ilmunya. Kita minta kepada semua pesantren yang lagi membangun tidak boleh membangun tanpa ada kalkulasi teknik,” ujarnya.
Pemerintah, lanjut Cak Imin, akan memberikan bantuan teknis kepada pesantren yang sedang membangun. Hal ini telah dikoordinasikan dengan Menko PMK, Pratikno, dan akan diteruskan ke Kementerian PUPR.
“Saya tadi juga sudah komunikasi sama Pak Pratik, kita ingin mencari jalan keluar. Pertama, pesantren yang membangun hendaknya menggunakan standar ilmu teknik. Tentu harus ada ahlinya, kepada yang belum ada ahlinya tolong dihentikan dulu,” tegasnya.
Sebagai bentuk kepedulian, Cak Imin secara pribadi dan sebagai Ketua Umum PKB menyerahkan bantuan Rp1 miliar kepada Ponpes Al Khoziny.
“Secara khusus saya masih bersifat pribadi, nanti pemerintah melalui Pak Pratik, melalui kementerian terkait, saya baru mengkonsolidir bantuan pribadi dari PKB,” pungkasnya.













