Berita

BRIN Ungkap Jaringan Sungai Purba Jadi Jalur Migrasi Manusia Prasejarah

10
×

BRIN Ungkap Jaringan Sungai Purba Jadi Jalur Migrasi Manusia Prasejarah

Sebarkan artikel ini
jalur-tol-purba-di-bawah-laut-ri-jadi-rute-migrasi-manusia-modern-awal
jalur tol purba di bawah laut ri jadi rute migrasi manusia modern awal

Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap kemungkinan besar jaringan sungai purba di kawasan Paparan Sunda atau Sundaland menjadi jalur migrasi utama manusia modern awal (Homo sapiens) saat menduduki Asia Tenggara di masa prasejarah.

Jaringan sungai purba raksasa yang kini tenggelam di bawah laut Indonesia tersebut diduga kuat berfungsi layaknya ‘jalur tol’ bagi pergerakan manusia di masa lalu.

Selama ini, teori migrasi pesisir atau coastal migration theory menjadi asumsi utama yang berkembang, yakni bahwa manusia purba berpindah hanya melalui jalur pantai. Namun, hasil riset geomorfologi dan paleogeografi terbaru membalikkan asumsi lama tersebut.

Peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah (PR APS) BRIN, Vida Pervaya Rusianti Kusmartono, mengatakan bahwa riset geomorfologi dan paleogeografi menunjukkan Paparan Sunda pada masa Pleistosen memiliki sistem sungai besar yang kini sudah tenggelam akibat kenaikan muka air laut.

Menurut dia, jaringan sungai purba tersebut diperkirakan menjadi koridor ekologis yang mendukung penyebaran manusia prasejarah menuju wilayah pedalaman maupun kawasan Wallacea.

Ia menambahkan,

“Mobilitas manusia prasejarah kemungkinan tidak hanya mengikuti jalur pesisir, tetapi juga memanfaatkan sistem sungai purba sebagai jalur perpindahan,” kata Vida.

Ia menjelaskan bahwa proses migrasi manusia modern dari Afrika menuju Asia Tenggara tidak berlangsung dalam satu gelombang tunggal. Perjalanan tersebut dilakukan melalui tahapan panjang dengan jalur yang beragam.

Menurutnya,

Pada masa glasial, penurunan muka air laut yang drastis menyatukan daratan Asia Tenggara menjadi Paparan Sunda. Di daratan masif yang kini menjadi dasar laut itulah, sistem sungai besar mengalir dan membentuk koridor ekologis menuju wilayah pedalaman Nusantara.

Terkait posisi strategis, wilayah timur Paparan Sunda, khususnya Kalimantan, memegang peran penting sebagai jembatan migrasi manusia dari Afrika sejak 45.000 hingga 30.000 tahun lalu sebelum menuju wilayah Wallacea dan Sahur. Hal ini dibuktikan dengan temuan alat batu, sisa fauna, serta bukti hunian gua di sejumlah situs arkeologi di Kalimantan.

Jejak migrasi di Kalimantan ini diperkuat oleh riset peneliti PR APS BRIN lainnya, Bambang Sugiyanto. Hasil risetnya di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, menunjukkan bahwa kawasan tersebut kemungkinan besar menjadi jalur utama migrasi manusia prasejarah di pulau tersebut.

Penelitiannya di sejumlah gua menemukan artefak berupa alat batu, gerabah, gambar cadas, hingga rangka manusia yang diperkirakan berusia sekitar 6.000 tahun.

Ujarnya,

“Temuan gambar cadas berwarna hitam di Kalimantan Selatan menjadi karakteristik unik yang berbeda dengan wilayah lain di Kalimantan,” ujar dia.

Menurut Bambang, selain sebagai jalur migrasi, sejumlah gua di Pegunungan Meratus juga digunakan sebagai lokasi hunian, penguburan, hingga aktivitas ritual masyarakat prasejarah.