Ecozone

Bos BEI Buka Suara Soal Rencana IPO BUMN Jumbo Danantara

6
×

Bos BEI Buka Suara Soal Rencana IPO BUMN Jumbo Danantara

Sebarkan artikel ini
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik saat memberikan keterangan terkait rencana IPO BUMN Danantara.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan dukungan terhadap rencana IPO sejumlah BUMN beraset jumbo oleh Danantara.

Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi menyatakan dukungan terhadap rencana Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) yang tengah mempersiapkan gelombang penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) bagi sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) beraset jumbo pada Kamis (6/8/2026).

Dilansir dari Katadata, Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan bahwa masuknya BUMN dengan fundamental kuat ke lantai bursa akan memperluas diversifikasi opsi bagi para investor dalam menempatkan modal mereka.

“Kami tentu menyambut baik rencana Danantara,” kata Jeffrey Hendrik.

Langkah strategis ini merupakan bagian dari upaya Danantara untuk melakukan penciptaan nilai serta pendalaman pasar modal domestik melalui penambahan perusahaan besar di bursa saham.

Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, menyebutkan bahwa peningkatan jumlah emiten BUMN akan berdampak langsung pada penguatan kapitalisasi pasar nasional.

Dony Oskaria mengungkapkan bahwa PT Pegadaian menjadi salah satu entitas yang dinilai memiliki potensi besar untuk segera melantai di pasar modal.

Selain itu, terdapat beberapa perusahaan pelat merah lain yang dianggap layak untuk melakukan IPO, seperti PT Pupuk Indonesia (Persero), PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, serta PT Angkasa Pura Indonesia.

“Banyak sekali perusahaan yang memang itu secara market cap bagus untuk kita IPO-kan nanti,” kata Dony Oskaria.

Agenda IPO ini merupakan bagian integral dari peta jalan transformasi Danantara yang dirancang untuk periode lima tahun ke depan.

Pada fase awal, fokus utama Danantara adalah melaksanakan konsolidasi serta restrukturisasi terhadap lebih dari 1.000 perusahaan yang berada di bawah naungan pengelolaannya.

Hingga 31 Juli 2026, tercatat sebanyak tujuh perusahaan baru telah melantai di BEI dengan total perolehan dana mencapai Rp 2,16 triliun.

Saat ini, terdapat empat perusahaan lain yang sedang mengantre dalam proses penawaran umum, yang terdiri dari dua perusahaan sektor kesehatan, satu perusahaan konsumer nonsiklikal, dan satu perusahaan industri.

Sementara itu, pada instrumen efek bersifat utang dan sukuk, BEI mencatat keberhasilan penghimpunan dana sebesar Rp 104,11 triliun dari 115 emisi yang diterbitkan oleh 62 perusahaan.

Saat ini, pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) belum memberikan tanggapan resmi mengenai perkembangan status pengajuan rencana IPO tersebut.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, belum merespons permintaan konfirmasi terkait progres perizinan rencana aksi korporasi tersebut.

Selain emiten yang telah melantai, terdapat 15 emisi dari 11 calon penerbit efek bersifat utang yang saat ini masih berada dalam daftar antrean atau pipeline di bursa.