Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan hampir separuh wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau pada awal Juli 2026.
Data BMKG menunjukkan sebanyak 342 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 48,9 persen wilayah Indonesia kini resmi mengalami musim kering.
Penurunan curah hujan tercatat signifikan dengan 92,64 persen wilayah Indonesia berpotensi mengalami curah hujan rendah di bawah 50 milimeter per dasarian.
BMKG juga mencatat peningkatan jumlah daerah dengan Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori sangat panjang, yakni durasi 31 hingga 60 hari.
Sebanyak 329 titik pengamatan kini didera kekeringan ekstrem dengan angka kejadian yang lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.
Citra satelit mendeteksi massa udara kering bergerak dari selatan Indonesia, terutama di sekitar Samudra Hindia hingga Nusa Tenggara.
Fenomena ini menghambat pertumbuhan awan hujan di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Pihak BMKG menyatakan, meluasnya musim kemarau ini diperparah oleh fenomena El Niño yang masih bertahan di Samudra Pasifik dengan indeks Niño 3.4 sebesar +1,25 dan Southern Oscillation Index (SOI) -24,7.
“Musim kemarau yang semakin meluas ini didukung dengan masih bertahannya fenomena El Niño, sehingga potensi pengurangan curah hujan di wilayah Indonesia semakin tinggi,” jelas BMKG dalam laporannya.
Prediksi pada Dasarian II Juli 2026 menunjukkan distribusi curah hujan didominasi kategori rendah.
Hanya 0,04 persen wilayah diprediksi memiliki curah hujan tinggi, sementara 7,32 persen dalam kategori menengah.
Sebagian besar wilayah Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua masuk dalam cakupan curah hujan rendah.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa pada Dasarian II Juli 2026, potensi hujan di banyak wilayah Indonesia relatif terbatas,” tambah BMKG.
Meski demikian, potensi hujan skala lokal atau regional masih dimungkinkan terjadi.
Hujan ringan hingga sedang berpeluang turun akibat pengaruh Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuator, serta dampak tidak langsung dari Siklon Tropis Bavi.







