Jakarta – Bareskrim Polri terus mendalami dugaan praktik penyelundupan ribuan unit ponsel ilegal yang melibatkan PT Tepat Sukses Logistik (TSL). Perusahaan tersebut diduga kuat berperan sebagai entitas cangkang yang digunakan untuk memanipulasi dokumen importasi perangkat telekomunikasi asal Cina.
Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Brigadir Jenderal Ade Safri Simanjuntak, mengonfirmasi bahwa penyidik telah memeriksa enam perwakilan manajemen PT TSL. Salah satu yang dimintai keterangan dalam proses tersebut adalah direktur perusahaan berinisial MT.
Penyidikan ini merupakan pengembangan dari operasi penggeledahan yang dilakukan polisi di kantor PT TSL di Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur, pada Selasa, 21 April 2026. Langkah ini diambil setelah polisi sebelumnya melakukan penggerebekan di enam gudang penyimpanan di wilayah Jakarta.
Dari hasil penggeledahan di berbagai lokasi, penyidik menyita 76.756 unit barang selundupan. Barang bukti tersebut meliputi 56.557 unit iPhone senilai Rp 225,2 miliar, 1.625 unit ponsel Android senilai Rp 5,38 miliar, serta 18.574 unit suku cadang ponsel. Nilai total barang bukti yang diamankan mencapai Rp 235,08 miliar.
Berdasarkan temuan dokumen, bukti fisik, serta keterangan saksi dan transportir, polisi telah menetapkan dua tersangka, yakni DCP alias P selaku importir dan SJ sebagai distributor. Keduanya kini dijerat dengan pasal berlapis, mulai dari tindak pidana perdagangan, perindustrian, telekomunikasi, perlindungan konsumen, hingga tindak pidana pencucian uang.
Guna memperdalam pengusutan, Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim turut menggandeng Direktorat Siber dan Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Polri. Pengungkapan ini merupakan bagian dari operasi Satuan Tugas Penegakan Hukum Penyelundupan Polri.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa pengembangan kasus masih terus berjalan untuk melacak keterlibatan pihak lain. Polri berkomitmen memperketat pengawasan di seluruh pintu masuk barang untuk mengantisipasi kebocoran penerimaan negara sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional.














