Berita

Analis Ungkap Skenario Naik-Turun Harga Emas, Ini Sentimen yang Perlu Dipantau

145
×

Analis Ungkap Skenario Naik-Turun Harga Emas, Ini Sentimen yang Perlu Dipantau

Sebarkan artikel ini
analis-ungkap-skenario-naik-turun-harga-emas,-ini-sentimen-yang-perlu-dipantau
analis ungkap skenario naik turun harga emas, ini sentimen yang perlu dipantau

Jakarta – Harga emas dunia menunjukkan angka 4.964 dolar AS per troy ounce pada penutupan perdagangan Sabtu (7/2/2026).

Di pasar domestik, harga logam mulia tercatat Rp 2.761.000 per gram.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memberikan proyeksi pergerakan harga selanjutnya.

Ibrahim memprediksi jika harga emas dunia turun, support pertama berada di 4.831 dolar AS per troy ounce.

“Kemudian logam mulianya (diperkirakan) di 2.725.000 per gram,” ujarnya, Ahad (8/2/2026).

Jika tekanan jual berlanjut, support kedua diproyeksikan di level 4.718 dolar AS per troy ounce.

Harga logam mulia berpotensi turun hingga Rp 2.620.000 per gram.

Sebaliknya, resistance pertama berada di level 5.057 dolar AS per troy ounce.

Hal itu berpotensi mendorong harga logam mulia ke kisaran Rp 2.800.000 per gram jika harga emas dunia naik.

“Apabila naik kembali, resistance kedua yaitu di 5.170 dolar per troy ounce, logam mulianya itu adalah di Rp 2.900.000 per gram,” sambung Ibrahim.

Sejumlah faktor memengaruhi fluktuasi harga emas dunia dan logam mulia.

Salah satunya adalah penundaan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) untuk Januari.

Data tersebut semula dijadwalkan Jumat (6/2/2026), namun diundur menjadi Rabu (11/2/2026).

“Data tenaga kerja itu bisa melihat sejauh mana Bank Sentral AS akan menurunkan suku bunga atau mempertahankan suku bunga,” ucap dia.

Faktor lain adalah langkah Bank of England dan Bank Sentral Eropa yang masih mempertahankan suku bunga.

Hal itu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi global.

Ketegangan di Timur Tengah sedikit mereda setelah pertemuan delegasi AS dan Iran terkait reaktor nuklir, meski risiko konflik masih ada.

Dinamika geopolitik belum usai setelah pernyataan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khomeini.

Khomeini memperingatkan akan membalas jika diserang oleh AS atau Israel.

Presiden AS Donald Trump memprediksi perdamaian antara Rusia dan Ukraina akan tercapai pada Mei–Juni.

Trump juga mengkritik China terkait dugaan uji coba nuklir, yang dibantah oleh Xi Jinping.

“Ini juga sebenarnya intrik-intrik yang kemungkinan ke depannya akan membuat harga emas dunia mengalami kenaikan,” lanjut Ibrahim.

Meski ada faktor yang berpotensi mendorong kenaikan, harga emas masih tertahan.

Salah satu penyebabnya adalah pencalonan Kevin Walsh sebagai calon Ketua The Fed yang dipandang pasar cenderung pro terhadap suku bunga tinggi.

“Meski sudah dibantah Trump, kalau seandainya tidak mengikuti keinginan Trump, kemungkinan akan dipecat juga. Tetapi rupanya pasar ini masih cenderung negatif, taking profit terhadap harga emas,” sambung Ibrahim.

Penurunan harga emas masih berpeluang berlanjut karena Chicago Mercantile Exchange (CME) belum menurunkan margin jaminan transaksi.

Kondisi di CME kurang menarik karena margin jaminan per lot yang tinggi dan spread yang melebar.

Margin per lot di CME meningkat dari 500 dolar AS menjadi 1.000 hingga 2.000 dolar AS, sementara spread melebar dari 270 dolar AS menjadi 1.500 dolar AS.

Kondisi tersebut menciptakan volatilitas tinggi dan menekan minat transaksi akibat pengurangan call margin yang berdampak negatif serta mendorong kenaikan margin transaksi.

“Jadi kalau melakukan transaksi di pasar derivatif itu adalah call margin 30 persen. Nah biasanya 30 persen itu karena turunnya terlalu dalam kemudian nasabah sampai minus,” lanjut Ibrahim.

Fluktuasi harga emas masih cenderung mengalami pelemahan sambil menunggu meredanya kondisi geopolitik global, perang dagang, serta dinamika internal di AS.

Untuk pekan ini, isu-isu tersebut relatif cukup terkendali.

“Hanya fokus terhadap kebijakan Trump yang memilih Kevin Walsh sebagai Gubernur Bank Sentral AS. Itu yang dijadikan sebagai acuan,” kata Ibrahim.