Ecozone

Selat Hormuz Memanas, Indonesia Percepat Diversifikasi Energi dan Jaga APBN

112
×

Selat Hormuz Memanas, Indonesia Percepat Diversifikasi Energi dan Jaga APBN

Sebarkan artikel ini
jika-selat-hormuz-ditutup,-ketahanan-energi-indonesia-terancam
jika selat hormuz ditutup, ketahanan energi indonesia terancam

Jakarta – Ketegangan geopolitik di Teluk Persia memicu kekhawatiran global. Potensi penutupan Selat Hormuz menjadi sorotan.

Selat Hormuz adalah jalur vital perdagangan energi dunia. Lebih dari 20% pasokan minyak global dan sepertiga perdagangan LNG melewati selat ini.

Pengamat energi, Dr. Rinto Agustino, menilai penutupan Selat Hormuz akan menguji ketahanan energi Indonesia.

Indonesia masih bergantung pada impor minyak, sekitar 55-65%, dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz.

“Gangguan di Selat Hormuz bukan hanya isu geopolitik global, tetapi bisa langsung berdampak pada stabilitas ekonomi dan fiskal nasional,” ujarnya, Senin (2/3/2026).

Lonjakan harga minyak dunia menjadi dampak paling cepat terasa. Harga minyak bisa melonjak hingga USD 120-150 per barel jika jalur ditutup.

APBN akan tertekan akibat membengkaknya subsidi energi. Risiko inflasi meningkat, daya beli masyarakat melemah, dan stabilitas sosial terganggu.

Gangguan pasokan energi berpotensi menimbulkan kelangkaan BBM dan LPG, terutama di wilayah timur.

“Efeknya bisa domino, mulai dari gangguan transportasi, kenaikan harga pangan, hingga perlambatan aktivitas industri,” jelasnya.

Ketahanan energi bukan sekadar isu teknis, melainkan persoalan strategis yang menyangkut kedaulatan dan keamanan negara.

Cadangan energi strategis Indonesia masih terbatas, dengan stok BBM nasional hanya cukup untuk 20-25 hari konsumsi.

Pemerintah didorong mempercepat diversifikasi sumber impor minyak ke kawasan non-Timur Tengah, seperti Afrika dan Amerika Latin.

Pembangunan cadangan strategis energi nasional (strategic petroleum reserve) dinilai mendesak.

Transisi energi domestik melalui pengembangan energi terbarukan, bioenergi, dan kendaraan listrik perlu dipercepat.

Peningkatan produksi migas nasional melalui insentif investasi dan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) juga penting.

Indonesia perlu berperan aktif dalam forum internasional untuk menjaga stabilitas pasokan energi global.

Politik luar negeri bebas aktif harus dimaknai sebagai langkah strategis untuk menjamin keamanan energi nasional.

“Energi bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi pilar kedaulatan negara. Tanpa ketahanan energi yang kuat, sulit bagi Indonesia untuk mewujudkan visi sebagai negara maju dan berdaulat,” pungkasnya.