Berita

Surabaya Geruduk, Tuntut Polri Usut Tuntas Kematian Arianto Tawakal

97
×

Surabaya Geruduk, Tuntut Polri Usut Tuntas Kematian Arianto Tawakal

Sebarkan artikel ini
masyarakat-sipil-surabaya-gelar-aksi-solidaritas-untuk-arianto-tawakal
masyarakat sipil surabaya gelar aksi solidaritas untuk arianto tawakal

Surabaya – Masyarakat Sipil Surabaya menggelar Aksi Kamisan ke-899. Mereka menuntut keadilan atas kematian Arianto Tawakal (14), seorang siswa MTs Negeri Maluku Tenggara.

Arianto diduga tewas akibat kekerasan oknum Brimob Polri di Tual, Maluku. Aksi digelar di seberang Gedung Negara Grahadi, Kamis (26/2).

Seratusan orang membawa payung hitam, poster, dan foto Arianto sebagai bentuk protes.

“Kami berharap mereka akan mendapatkan hukuman yang setimpal,” ujar salah satu orator dalam aksi tersebut.

Zaldi Maulana, perwakilan massa aksi, menyatakan kematian Arianto menambah panjang daftar kasus pembunuhan di luar hukum. Korban, menurutnya, banyak menyasar masyarakat sipil, termasuk anak-anak.

Ia menilai kejadian ini adalah bukti kegagalan polisi dalam melindungi rakyat. Tindak kekerasan yang dilakukan dinilai sangat keji.

“Arianto Tawakkal, seorang siswa di Tual, Maluku tewas dipukul menggunakan helm hingga bersimbah darah di tangan anggota Polri, Masias Siahaya,” tegas Zaldi.

Zaldi menambahkan, Arianto bukan korban pertama. Gamma Rizkynata Oktavandy dan Afif Maulana juga tewas pada tahun 2024.

Massa aksi juga menyoroti UU Perlindungan Anak dan UU Polri yang seharusnya menjamin perlindungan anak dan tugas Polri.

Zaldi mengecam pelabelan negatif seperti ‘balap liar’ atau ‘tawuran’ pada korban. Ia menilai hal ini sebagai taktik cuci tangan aparat.

“Penggunaan narasi ini pasca kematian seorang anak merupakan bukti bahwa betapa pengecutnya aparat,” katanya.

Aksi Kamisan ini menuntut Polri mengembalikan profesionalitas dan menghapus budaya militeristik. Mereka juga meminta polisi berhenti menyalahkan korban.

“Jika betul Reformasi Polri adalah upaya serius dan bukan sekadar kampanye PR, Polri harus bisa mengembalikan unsur profesionalitasnya,” pungkasnya.

Aksi diakhiri dengan teatrikal dan doa bersama untuk mengenang Arianto, Gamma, dan korban lainnya.