Jakarta – Pemerintah akan memulihkan sektor pertanian pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dengan program padat karya.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan perbaikan sawah yang rusak akan dilakukan langsung oleh pemilik lahan.
Biaya perbaikan ditanggung pemerintah pusat.
“Melalui skema ini, petani tidak hanya memulihkan lahan pertanian, tetapi juga memperoleh pendapatan selama proses pemulihan,” kata Amran, Sabtu (17/01).
Konsep padat karya ini, menurut Amran, akan melibatkan aktif seluruh pemilik sawah.
Petani akan bekerja di lahan masing-masing dan menerima upah harian.
Pemerintah pusat juga menanggung biaya benih, pengolahan tanah, dan perbaikan irigasi.
Kementerian Pertanian mencatat total lahan terdampak bencana di tiga provinsi mencapai 98.002 hektare.
Aceh menjadi wilayah terluas dengan 54.233 hektare di 21 kabupaten/kota.
Sumatera Utara menyusul dengan 37.318 hektare di 15 kabupaten/kota, dan Sumatera Barat 6.451 hektare di 14 kabupaten/kota.
Di Aceh, sekitar 10.000 hektare sawah masuk program rehabilitasi dengan kebutuhan tenaga kerja mencapai 200.000 hari orang kerja (HOK).
Pemerintah menargetkan pemulihan lahan rusak ringan hingga sedang maksimal dalam tiga bulan.
Selain tenaga petani, Kementan juga menyiapkan dukungan teknologi.
Traktor akan digunakan untuk pengolahan tanah, dan perbaikan jaringan irigasi dilakukan intensif.
Lahan yang tertimbun lumpur dalam akan ditangani dengan drone.
Program padat karya ini disebut sebagai langkah strategis untuk menjaga ketahanan pangan nasional.







