BeritaEcozone

Danantara Kaji BUMN Tekstil, Bidik Aset Bermasalah dan Serap Tenaga Kerja

123
×

Danantara Kaji BUMN Tekstil, Bidik Aset Bermasalah dan Serap Tenaga Kerja

Sebarkan artikel ini
danantara-kaji-pembentukan-bumn-tekstil,-ini-potensinya
danantara kaji pembentukan bumn tekstil, ini potensinya

Jakarta – CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan pihaknya masih mengkaji mendalam rencana pembentukan BUMN di sektor tekstil.

Rosan menegaskan setiap investasi dilakukan melalui studi kelayakan dan asesmen menyeluruh.

Hal ini termasuk sektor tekstil yang tengah menjadi perhatian pemerintah.

“Kita di Danantara, semuanya tentunya investasi yang kita lakukan itu sudah dalam feasibility study atau assessment yang penuh dari segala macam sektor,” ujarnya di Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Ia menambahkan, Danantara terbuka menerima investasi dengan imbal hasil lebih rendah.

Syaratnya, investasi tersebut harus mampu menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar.

Rosan mencontohkan sektor tekstil sebagai industri dengan daya serap tenaga kerja tinggi.

Danantara akan melihat peluang, terutama pada perusahaan yang masuk kategori aset bermasalah.

“Kita melihat potensi-potensi yang ada saja, apalagi kalau itu sudah termasuk dalam distressed asset,” katanya.

Saat ditanya kepastian pembentukan BUMN tekstil, Rosan menegaskan Danantara masih membuka opsi dan belum mengambil keputusan final.

“Kita masih melihat opsi-opsinya,” ucapnya.

Sebelumnya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan pemerintah akan membentuk BUMN baru khusus sektor tekstil.

Rencana ini merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto saat rapat di Hambalang, Bogor, 11 Januari 2026.

Industri tekstil dan garmen dinilai menjadi garda terdepan menghadapi risiko kebijakan tarif AS.

“Bapak Presiden mengingatkan kita pernah mempunyai BUMN tekstil dan ini akan dihidupkan kembali, sehingga pendanaan 6 miliar (dolar AS) nanti akan disiapkan oleh Danantara,” kata Airlangga di Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Airlangga menerangkan, hasil studi yang rampung akan dilanjutkan dengan penyusunan roadmap penguatan industri tekstil dan produk tekstil (TPT).

Pemerintah menyiapkan pendanaan 6 miliar dolar AS melalui BPI Danantara untuk mendukung kebijakan tersebut.

Dana tersebut diarahkan untuk pengadaan barang modal, penerapan teknologi baru, hingga peningkatan ekspor di sektor tekstil.

“Oleh karena itu sudah dibuat roadmap bagaimana meningkatkan ekspor kita yang dari 4 miliar (dolar AS), bisa naik ke 40 miliar (dolar AS) dalam 10 tahun l, dan bagaimana pendalaman dari value chain daripada industri tekstil,” jelasnya.

Menko mengakui masih ada kelemahan pada rantai nilai tekstil, terutama pada produksi benang, kain, dyeing, printing, dan finishing.

ce1fa51febc81a572691d15753ef4c47.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. Emiten produsen pipa baja, PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) mengumumkan rencana pembelian kembali (buyback) saham dengan nilai sebanyak-banyaknya Rp 200 miliar. Jumlah saham yang akan dibeli kembali kurang lebih 3,4% atau sekitar 83.330.000 saham dari total saham yang telah dikeluarkan oleh perusahaan. ISSP juga memastikan bahwa jumlah maksimum saham yang dapat dibeli kembali tetap memperhatikan jumlah saham…