Bandung – Rumah Sakit Umum Pusat (RSHS) dr. Hasan Sadikin Bandung mencatat 10 pasien positif terinfeksi virus influenza A subclade K, yang dikenal dengan istilah “superflu”. Kabar duka menyelimuti, seorang pasien dengan penyakit penyerta (komorbid) dilaporkan meninggal dunia.
“Kita tidak bisa memastikan apakah kematian tersebut langsung disebabkan oleh virus ini, mengingat pasien memiliki banyak komorbid,” ungkap Ketua Tim Penyakit Infeksi New Emerging dan Re-emerging (Pinere) RSHS Bandung, Yovita Hartantri, dalam konferensi pers, Kamis (8/1/2026).
Menurut Yovita, pasien yang meninggal adalah lansia yang sempat menjalani perawatan intensif di ICU. Selain terinfeksi superflu, pasien tersebut juga memiliki riwayat penyakit stroke dan jantung. “Komorbid pada usia lanjut, apalagi dengan perawatan yang lama, berpotensi menimbulkan sakit berat dan berujung pada kematian,” jelasnya.
RSHS Bandung baru-baru ini menerima hasil pemeriksaan sampel dari Kementerian Kesehatan yang mengkonfirmasi adanya 10 pasien positif superflu. Yovita menjelaskan bahwa Kementerian Kesehatan telah meminta seluruh rumah sakit di Indonesia untuk melakukan surveilans sejak 2023, pasca pandemi Covid-19.
Surveilans difokuskan pada pasien dengan gejala influenza atau Severe Acute Respiratory Infection (SARI), seperti batuk, demam, pilek, dan sesak napas. Sampel dari pasien dengan gejala tersebut kemudian diuji swab.
Data hasil skrining menunjukkan peningkatan kasus influenza A pada tahun 2025, dimulai dari Agustus, mencapai puncaknya pada Oktober, dan kemudian menurun pada November. Sampel pasien dikirim ke Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan di Jakarta untuk sequencing. Hasilnya baru diperoleh pada Januari ini.
Dari 10 pasien yang terinfeksi superflu, dua di antaranya adalah bayi berusia 9 bulan dan 1 tahun. Sebagian besar pasien berusia antara 20 hingga 60 tahun, dan dua orang berusia di atas 60 tahun. Mereka menjalani perawatan di RSHS Bandung pada bulan September, Oktober, dan November 2025. Dua pasien di antaranya mengalami kondisi sakit yang berat, termasuk pasien yang meninggal dunia.
Direktur Medik dan Keperawatan RSHS Bandung, Iwan Abdul Rachman, menjelaskan bahwa istilah superflu bukanlah istilah baku dalam dunia kedokteran. Istilah ini digunakan masyarakat untuk menggambarkan gejala influenza yang lebih berat, penyebaran yang cepat, dan kombinasi beberapa virus.
“Kita tidak perlu panik menghadapi situasi ini, trennya juga cenderung menurun,” tegas Iwan.
Langkah pencegahan penularan, seperti rajin mencuci tangan dan memakai masker, menjadi kunci utama. Bagi mereka yang merasakan gejala influenza, diimbau untuk tidak menularkan penyakit ke orang lain. “Penyakit ini masuk dalam kategori droplet infection,” pungkas Iwan.







