Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuka opsi serangan lanjutan ke Venezuela, usai penangkapan Presiden Nicolás Maduro oleh pasukan AS. Maduro kini menghadapi proses hukum di New York.
Ancaman serangan kedua dilontarkan Trump jika Venezuela dianggap tidak kooperatif. Terutama terkait pembukaan industri minyak dan pemberantasan perdagangan narkotika.
“Jika mereka tidak melakukan hal yang benar, mereka akan membayar harga yang jauh lebih mahal daripada Maduro. Jika mereka tidak bertindak dengan semestinya, kami akan melakukan serangan kedua,” tegas Trump seperti dikutip dari laporan sejumlah media internasional.
Pejabat AS mengklaim operasi penangkapan Maduro dilakukan untuk menyeretnya ke pengadilan atas dakwaan konspirasi narkoterorisme tahun 2020. Namun, Trump mengakui faktor lain seperti imigrasi Venezuela dan kepentingan minyak AS juga menjadi pertimbangan.
Tekanan juga menyasar Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, yang kini menjabat sebagai pemimpin sementara. Trump enggan berkomentar banyak soal komunikasi dengan Rodríguez. “Kami berurusan dengan orang-orang yang baru dilantik. Jangan tanya saya siapa yang berkuasa karena saya akan memberi jawaban yang sangat kontroversial,” ujarnya.
Rodríguez sendiri menyerukan hubungan yang seimbang dan saling menghormati dengan AS. Ia juga membuka pintu kerja sama dalam agenda pembangunan bersama.
Tak hanya Venezuela, Trump juga mengisyaratkan kemungkinan aksi militer terhadap Kolombia dan Meksiko. Ia menyebut Presiden Kolombia Gustavo Petro sebagai “orang sakit” dan menyatakan operasi militer terdengar menarik.
Trump juga menyinggung Kuba, yang menurutnya “siap runtuh” usai penangkapan Maduro. Ia meremehkan perlunya aksi militer terhadap Kuba, karena negara itu dinilai akan kesulitan bertahan tanpa pasokan minyak bersubsidi dari Venezuela.
Pemerintah Kuba mengecam keras penangkapan Maduro. Mereka mengklaim 32 warga negaranya tewas dalam serangan AS di Caracas dan menyebutnya sebagai tindakan kriminal.







