Ecozone

Joko Anwar Terima Penghargaan Chevalier dari Prancis

85
×

Joko Anwar Terima Penghargaan Chevalier dari Prancis

Sebarkan artikel ini
joko-anwar-dianugerahi-gelar-ksatria‘chevalier-de-l’ordre-des-arts-et-des-lettres’-oleh-pemerintah-prancis
joko anwar dianugerahi gelar ksatria‘chevalier de l’ordre des arts et des lettres’ oleh pemerintah prancis

Paris – Joko Anwar, sutradara dan penulis skenario asal Indonesia, dianugerahi Chevalier de l’Ordre des Arts et des Lettres oleh Pemerintah Prancis dalam upacara di Kementerian Kebudayaan Paris, Kamis malam (11/12).

Penghargaan bergengsi ini menjadi pengakuan atas dedikasi, kontribusi, dan komitmen Joko Anwar terhadap perfilman, yang dinilai membawa dampak signifikan bagi perfilman Indonesia maupun lanskap sinema global melalui pemutaran di festival bergengsi dan lonjakan penonton di berbagai negara.

Upacara pemberian tanda kehormatan ini langsung disematkan oleh Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati. Dalam sambutannya, ia menyoroti pendekatan khas Joko Anwar yang menjadikan sinema sebagai media yang sangat mudah diakses oleh penonton luas, dengan memanfaatkan genre sebagai pintu masuk sambil tetap menyampaikan muatan sosial dan isu penting di masyarakat. “Dedikasi dan komitmen­nya telah berkontribusi pada kemajuan perfilman Indonesia, sekaligus memperkaya dialog sinema dunia,” ujar Dati.

Dengan penganugerahan Chevalier de l’Ordre des Arts et des Lettres ini, Joko Anwar bergabung dengan jajaran seniman dan tokoh budaya dunia yang diakui atas kontribusinya terhadap seni dan kebudayaan internasional. Ordre des Arts et des Lettres merupakan salah satu penghargaan kebudayaan tertinggi dari Prancis bagi individu yang dinilai berjasa besar dalam pengembangan seni dan sastra; sepanjang sejarah, tanda kehormatan ini telah diberikan kepada tokoh seperti Martin Scorsese, David Lynch, Tim Burton, Pedro Almodóvar, Isabelle Huppert, Meryl Streep, Cate Blanchett, Tilda Swinton, David Bowie, serta Hayao Miyazaki.

Dalam pidatonya, Joko Anwar menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Prancis serta refleksi atas perjalanan kreatifnya sebagai pembuat film yang tumbuh dan berkarya di Indonesia. Ia menjelaskan pendekatannya dalam berkarya: “Melalui cerita-cerita yang dibungkus dalam horor, thriller, atau komedi, saya berusaha membicarakan hal-hal yang sering kali sulit dibicarakan secara langsung, tentang ketidakadilan, tentang kekuasaan, tentang manusia dan lingkungan tempat ia berpijak.” Ia menambahkan bahwa banyak karyanya lahir dari kegelisahan terhadap isu-isu sosial dan ekologis, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa sinema populer agar dapat menjangkau lebih banyak penonton.

Penghargaan ini datang bersamaan persiapan Joko Anwar merilis Ghost in the Cell, film ke-12-nya yang dijadwalkan tayang pada 2026. Film horor-komedi ini mengambil latar penjara sebagai metafora, sambil mengangkat isu kerusakan lingkungan, kekuasaan, dan tanggung jawab moral melalui pendekatan genre khasnya. “Ghost in the Cell adalah bagian dari percakapan yang sama yang selama ini ingin saya bangun lewat film-film saya,” imbuhnya.