Jakarta – Kecelakaan mobil pengangkut Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang menabrak 22 orang, termasuk puluhan siswa SDN Kalibaru 01, Jakarta Utara, pada Kamis, 11 Desember 2025, memicu kekhawatiran serius dari Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana. Insiden ini tidak hanya menyebabkan luka parah pada beberapa korban, tetapi juga menyoroti potensi trauma psikologis dan kelalaian dalam operasional distribusi program gizi nasional.
Dadan Hindayana mengaku sangat khawatir akan dampak negatif insiden ini, terutama trauma yang dialami para siswa. Ia menegaskan akan berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk memutuskan keberlanjutan program MBG di lokasi tersebut.
“Saya juga akan koordinasi dengan sekolah, apakah sekolah sementara masih menerima atau tidak karena ini sangat terkait dengan trauma yang terjadi,” kata Dadan usai menjenguk korban di RSUD Koja, Jakarta.
Menurut Dadan, insiden ini tidak terkait dengan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Welangsari secara umum. Ia berharap distribusi MBG dapat terus berjalan, kendati proses hukum terhadap pengemudi masih berlangsung.
Namun, BGN tidak akan memaksakan program bila siswa masih trauma. “Jangan sampai kemudian kita paksakan dan anak-anak takutnya trauma. Jadi kita coba cek nanti dengan termasuk sekolah,” ujarnya.
Total korban dalam kejadian ini mencapai 22 orang, terdiri dari 21 siswa dan satu guru SD. Saat ini, dua siswa masih menjalani perawatan intensif di ruang Intensive Care Unit (ICU) RSUD Koja akibat luka parah.
Satu siswa dengan luka terparah harus menjalani operasi tulang dan plastik, ditangani oleh tiga dokter: saraf, anak, dan kosmetik. Sementara satu korban lainnya diklaim sudah berangsur-angsur stabil.
Selain dua korban di ICU, sembilan korban lain masih dirawat. Lima korban berada di RSUD Koja dan empat lainnya di RSUD Cilincing. Sebanyak 11 siswa lain telah dipulangkan ke rumah masing-masing setelah mendapat penanganan medis.
Dadan memastikan bahwa seluruh biaya pengobatan korban akan ditanggung penuh oleh BGN. Ia juga menyampaikan permintaan maaf atas kelalaian pengemudi.
Penyebab kecelakaan ini, lanjut Dadan, adalah kurangnya pengalaman pengemudi dan kondisi mengantuk lantaran kurang tidur. Sopir tersebut, yang kini telah ditangkap polisi, bukanlah pegawai tetap SPPG, melainkan sopir cadangan yang menggantikan pengemudi tetap yang sakit.
Dadan menduga sopir salah menginjak pedal gas saat menghadapi medan jalan menanjak. “Kami perkirakan ada kepanikan ketika pindah gigi dari dua ke satu. Sehingga salah menginjak pedal (gas),” jelasnya.
Selain itu, Dadan menyoroti adanya pelanggaran prosedur. Seharusnya, mobil pengangkut MBG parkir di luar gerbang sekolah dan tiba sebelum jam pelajaran dimulai. Ia mengklaim akan memberikan teguran kepada sopir yang kini dalam pemeriksaan kepolisian.
Kepala BGN ini menekankan pentingnya kelayakan setiap kendaraan operasional SPPG. Petunjuk teknis tata kelola MBG juga mewajibkan SPPG mengecek kondisi mobil sebelum digunakan. Dadan mengakui insiden ini menjadi pelajaran berharga bagi BGN untuk lebih teliti dalam merekrut sopir cadangan.







