Life

Pakar IPB Ungkap Asal Kayu Gelondongan Penyebab Banjir Sumatera

235
×

Pakar IPB Ungkap Asal Kayu Gelondongan Penyebab Banjir Sumatera

Sebarkan artikel ini
02175e473f0f2cab58ebf6cab609236c.jpg
02175e473f0f2cab58ebf6cab609236c.jpg

Fenesia – Bencana longsor dan banjir di Sumatera tidak hanya meninggalkan kerusakan parah dan korban jiwa, tetapi juga memunculkan misteri besar terkait tumpukan kayu gelondongan yang berserakan di lokasi kejadian. Prof. Dodik Ridho Nurochmat, Ahli Kebijakan Hutan dari IPB University, mendesak dilakukannya investigasi menyeluruh untuk mengungkap asal-usul material kayu tersebut, yang diduga merupakan kombinasi dari penebangan liar dan sisa pembersihan lahan.

Berdasarkan citra visual yang beredar, Prof. Dodik menyoroti bahwa material kayu berukuran besar dan kecil tersebut kemungkinan berasal dari beragam sumber. Ia menduga kayu-kayu itu adalah campuran dari hasil penebangan, pohon yang tumbang secara alami, dan sisa-sisa kegiatan pembersihan lahan (land clearing) yang tidak tuntas dibersihkan.

“Jika terbawa arus air, kayu itu akan mengambang. Namun, bisa juga dari penebangan kayu yang baru. Untuk itu harus ada investigasi,” ujar Prof. Dodik.

Menurutnya, kayu bisa saja terbawa arus jika mengambang, baik itu hasil penebangan lama maupun baru. Oleh karena itu, identifikasi langsung di lapangan menjadi sangat krusial untuk memastikan asal-usulnya. Ia belum dapat memastikan apakah seluruh temuan itu adalah kayu tebangan baru atau kayu lama yang terseret arus deras.

Prof. Dodik menjelaskan, perbedaan mendasar antara kayu hasil tebangan manusia dan kayu tumbang alami terlihat dari bekasnya. Kayu tebangan akan menunjukkan bekas gergaji yang rapi, sementara pohon tumbang alami tidak memiliki pola potongan serupa. Namun, ia mengakui bahwa sulit melakukan identifikasi detail, seperti mendeteksi pembalakan liar atau pelanggaran pembersihan lahan, hanya dengan mengandalkan foto atau video.

Terlepas dari misteri asal-usul kayu, Prof. Dodik menegaskan bahwa bencana banjir dan longsor di Sumatera merupakan akumulasi dari faktor alam dan ulah manusia. Cuaca ekstrem dan kondisi geografis pegunungan menjadi faktor alam. Namun, faktor manusia, berupa kerusakan lingkungan, telah menghilangkan daya dukung dan daya tampung alam, memperparah dampak bencana.

Guna mencegah terulangnya bencana serupa, Prof. Dodik menekankan pentingnya pembenahan menyeluruh tata kelola lingkungan. Hal ini mencakup kepatuhan ketat terhadap regulasi seperti Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS).

Penegakan hukum juga harus diperkuat, tidak hanya berfokus pada sanksi denda, tetapi juga pada upaya pemulihan lingkungan yang telah rusak. Penurunan tutupan hutan (forest loss) dan degradasi lingkungan harus menjadi perhatian serius karena berdampak langsung pada daya dukung lingkungan.

Prof. Dodik mengingatkan bahwa pemanfaatan hutan harus selalu mengedepankan keberlanjutan. “Masyarakat harus bisa mengambil manfaat dari hutan tanpa merusaknya,” pungkasnya.