Berita

Guru Surabaya Jemput Siswa Bolos, Cegah Potensi Putus Sekolah

96
×

Guru Surabaya Jemput Siswa Bolos, Cegah Potensi Putus Sekolah

Sebarkan artikel ini
7ee01d8756de196db20b62188d135d80.jpg
7ee01d8756de196db20b62188d135d80.jpg

Surabaya – Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya resmi meluncurkan program “Rawan Putus Sekolah” yang bertujuan menjemput kembali siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) yang bolos. Melalui program ini, guru akan langsung mendatangi rumah siswa untuk mengajaknya kembali belajar di sekolah.

Baru-baru ini, akun media sosial Dispendik Surabaya menampilkan sebuah video yang memperlihatkan aksi guru SMPN 46. Mereka menjemput seorang siswa yang sudah tiga hari tidak masuk sekolah karena masalah keluarga. Setelah berkomunikasi dengan pihak keluarga, siswa tersebut berhasil dibujuk untuk kembali melanjutkan pendidikannya.

Kepala Dispendik Surabaya, Yusuf Masruh, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan upaya serius untuk mencegah anak-anak putus sekolah. Ia berharap program ini dapat menumbuhkan kembali semangat belajar siswa-siswi.

Yusuf menyampaikan rasa syukurnya karena banyak orang tua menunjukkan empati dan memberikan dukungan terhadap program ini. Menurutnya, setiap sekolah juga memiliki cara inovatifnya sendiri untuk memotivasi siswa agar tetap semangat belajar.

“Alhamdulillah teman-teman guru saling bisa empati, home visit ke rumah (menjemput siswa yang bolos sekolah), nanti dimotivasi. Harapannya nanti anak-anak segera bisa kembali ke sekolah. Soalnya kalau lingkungannya terlalu lama di luar sekolah, mau kembali ke sekolah juga lama,” ujar Yusuf pada Senin (24/11).

Ia memastikan, sebelum melakukan penjemputan, guru di sekolah akan terlebih dahulu berkomunikasi dengan orang tua siswa. Pendekatan ini dilakukan untuk memahami alasan di balik ketidakhadiran siswa.

“Kalau yang enggak izin satu, dua hari itu home visit. Soalnya kami enggak tahu anak-anak ini harus apa ini di luar, nanti pas dia enggak izin (bolos) dia ke mana-mana, tetapi teman-teman guru mesti komunikasi sama orang tua, tanya ke mana kok enggak masuk,” jelasnya.

Program penjemputan siswa bolos ini baru saja diluncurkan Dispendik Surabaya. Diharapkan semua sekolah dapat menerapkan program serupa dengan model yang disesuaikan kondisi anak saat ini.

Dispendik juga berencana meningkatkan peran guru bimbingan konseling (BK). “Guru BK juga kami tingkatkan. Harapannya bisa mempertimbangkan curhat teman-teman, anak-anak kita (kenapa bolos),” tambahnya.

Yusuf menegaskan bahwa program ini sudah diterapkan di seluruh sekolah, meskipun pelaksanaannya mungkin berbeda di setiap institusi. “Insyaallah sudah diterapkan ke semua sekolah, tetapi pelaksanaannya enggak sama. Ada satgas di sekolah,” pungkasnya.