Berita

Kapolda Metro: Siswa SMAN 72 Tidak Terlibat Jaringan Teroris

91
×

Kapolda Metro: Siswa SMAN 72 Tidak Terlibat Jaringan Teroris

Sebarkan artikel ini
59f56ad9b16cc839393c3cf16f6a9b0c.jpg
59f56ad9b16cc839393c3cf16f6a9b0c.jpg

Jakarta – Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) memastikan siswa di balik peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta bertindak sendiri dan tidak terafiliasi dengan jaringan teror. Terduga pelaku, yang masih berstatus siswa aktif di sekolah tersebut, kini telah sadar setelah menjalani operasi di bagian kepala.

Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Asep Edi Suheri menyatakan bahwa hasil penyelidikan sementara menunjukkan anak yang berkonflik dengan hukum (ABH) tersebut bertindak mandiri. “Berdasarkan hasil penyelidikan, sementara ini anak yang berkonflik dengan hukum (ABH) merupakan siswa aktif yang bertindak mandiri dan tidak terhubung dengan jaringan teror,” kata Asep dalam konferensi pers di Markas Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa, 11 November 2025.

Asep menambahkan, terduga pelaku dikenal sebagai pribadi tertutup, jarang bergaul, dan memiliki ketertarikan pada konten kekerasan.

Penyelidikan kasus ini telah melibatkan pemeriksaan terhadap 16 saksi, termasuk korban, guru, siswa, dan terduga pelaku. Polda Metro Jaya bekerja sama dengan Detasemen Khusus 88 Antiteror (Densus 88) juga menganalisis rekaman kamera pengintai (CCTV), ponsel, serta aktivitas ABH untuk mendalami motif dan latar belakang tindakannya.

Mengenai kondisi terduga pelaku, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Budi Hermanto mengungkapkan bahwa siswa tersebut sudah sadar namun masih dalam pemantauan intensif. “Sudah sadar, tetapi kondisinya masih harus dipantau karena proses pemulihan fisik dan psikisnya cukup berat,” ujar Budi secara terpisah di Mapolda Metro Jaya, Sabtu, 8 November 2025. Terduga pelaku saat ini masih dirawat di ruang perawatan intensif (ICU).

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah membenarkan bahwa terduga pelaku merupakan salah satu siswa di SMAN 72 Jakarta. Hal tersebut disampaikan Sigit setelah menjenguk korban ledakan di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, Jakarta Pusat, pada Sabtu.

Insiden ledakan di SMAN 72 Jakarta terjadi pada Jumat, 7 November 2025, saat para siswa dan guru melaksanakan salat Jumat. Ledakan pertama terdengar dari dalam musala di lantai tiga, disusul ledakan kedua beberapa menit kemudian dari area belakang kantin sekolah.

Saat olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi menemukan senjata api mainan yang tertulis nama tiga pelaku penembakan masjid di berbagai negara, yaitu Brenton Tarrant, Alexandre Bissonnette, dan Luca Traini. Ketiganya dikenal sebagai pelaku teror dengan motif supremasi kulit putih dan neo-fasis. Di lokasi kejadian, polisi juga menemukan bahan peledak rakitan.