Berita

Warga Gaza Kembali ke Kota Hancur Usai Dua Tahun Perang

146
×

Warga Gaza Kembali ke Kota Hancur Usai Dua Tahun Perang

Sebarkan artikel ini
bd019d850f9e60974f16be47d3815206.jpg
bd019d850f9e60974f16be47d3815206.jpg

Gaza – Pasukan Israel mulai menarik diri dari sejumlah wilayah di Jalur Gaza pada Jumat (10/10/2025), menyusul diberlakukannya kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas. Langkah ini membuka kesempatan bagi sebagian warga untuk kembali ke rumah mereka yang hancur akibat perang dua tahun terakhir, meskipun rasa takut dan ketidakpastian masih menyelimuti.

Pemerintah Israel telah meratifikasi kesepakatan gencatan senjata Gaza pada Jumat dini hari. Kesepakatan ini membuka jalan bagi penarikan pasukan dan penghentian penuh pertempuran di Gaza dalam waktu 24 jam.

Sebagai bagian dari perjanjian, para sandera Israel akan dibebaskan dalam 72 jam berikutnya, dengan imbalan pembebasan sejumlah tahanan Palestina di Israel. Tahap awal inisiatif Presiden AS Donald Trump ini mengatur agar pasukan Israel mundur dari beberapa wilayah perkotaan utama Gaza, meskipun mereka tetap mempertahankan kendali atas sekitar separuh wilayah kantong tersebut.

Begitu kesepakatan berlaku, truk-truk bantuan berisi makanan dan obat-obatan akan segera memasuki Gaza untuk membantu ratusan ribu warga sipil yang kini hidup di tenda-tenda setelah rumah mereka hancur lebur. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melalui akun X-nya menyatakan, “Pemerintah baru saja menyetujui kerangka kerja pembebasan semua sandera, baik yang masih hidup maupun telah meninggal.”

Penarikan pasukan Israel dilaporkan berlangsung bertahap. Di Khan Younis, pasukan Israel mulai meninggalkan wilayah timur dekat perbatasan, meskipun suara tembakan tank masih terdengar oleh warga setempat. Sementara itu, di kamp Nusseirat di bagian tengah Gaza, sejumlah tentara membongkar posisi mereka dan bergerak menuju perbatasan Israel.

Namun, beberapa pasukan dilaporkan tetap bertahan setelah terjadi baku tembak dini hari. Sepanjang jalur pantai Mediterania menuju Kota Gaza, warga tampak menunggu dengan harapan bisa kembali ke pusat kota, namun suara tembakan di sekitar lokasi membuat banyak orang ragu untuk bergerak lebih jauh.

Ismail Zayda (40), warga Sheikh Radwan di Kota Gaza, mengungkapkan perasaannya. “Alhamdulillah rumah saya masih berdiri. Tapi tempat ini hancur, rumah tetangga saya rata dengan tanah, seluruh distrik lenyap,” ujarnya. Ia melanjutkan, “Katanya sudah gencatan senjata, tapi kenapa tidak ada yang datang memberi tahu kami bahwa kami bisa berhenti takut?”

Petugas penyelamat mulai menjangkau daerah-daerah yang sebelumnya tertutup pertempuran. Tim medis menemukan sedikitnya 10 jenazah dari serangan terdahulu. Mahdi Saqla (40) menyatakan kebahagiaannya bisa kembali. “Begitu mendengar kabar gencatan senjata, kami senang sekali dan langsung bersiap pulang ke Gaza. Tentu saja rumah kami sudah tidak ada, semua rata dengan tanah,” katanya. “Tapi kami bahagia bisa kembali ke tempat rumah kami dulu, meski hanya reruntuhan. Selama dua tahun kami menderita, berpindah dari satu tempat ke tempat lain.”

Kepala Hamas di Gaza yang kini diasingkan, Khalil Al-Hayya, mengatakan telah menerima jaminan dari Amerika Serikat dan mediator internasional bahwa perang telah berakhir. Perang dua tahun ini telah menewaskan lebih dari 67.000 warga Palestina dan memperburuk isolasi diplomatik Israel di dunia internasional.

Konflik juga memicu ketegangan di Timur Tengah, melibatkan Iran, Yaman, dan Lebanon. Di pihak Israel, pertempuran itu dimulai setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 orang dan menculik 251 warga Israel.

Saat ini, sekitar 20 sandera diyakini masih hidup di Gaza, sementara 26 lainnya diduga tewas dan dua orang belum diketahui nasibnya. Hamas memperingatkan bahwa evakuasi jenazah bisa memakan waktu lebih lama daripada pembebasan sandera yang masih hidup.

Meskipun disambut dengan sukacita, kesepakatan ini masih menyisakan banyak tantangan dalam implementasinya. Hingga kini, kedua pihak belum mempublikasikan daftar tahanan Palestina yang akan dibebaskan sebagai imbalan atas sandera Israel. Hamas juga menuntut pembebasan sejumlah narapidana berprofil tinggi serta ratusan tahanan lainnya yang ditahan selama operasi militer Israel.

Langkah-langkah berikut dalam rencana 20 poin Trump masih dinegosiasikan, termasuk pengaturan tata kelola Gaza pascaperang dan status akhir Hamas yang menolak pelucutan senjata. Perdana Menteri Netanyahu sendiri menghadapi tekanan dari internal koalisinya, karena sebagian anggota menentang kesepakatan dengan Hamas.

Presiden Trump dijadwalkan mengunjungi wilayah tersebut pada Minggu (12/10/2025) dan kemungkinan akan menghadiri upacara penandatanganan perjanjian di Mesir. Ketua Knesset, Amir Ohana, bahkan telah mengundangnya untuk berpidato di parlemen Israel.

Kesepakatan ini didukung oleh sejumlah negara Arab dan Barat, serta disebut sebagai pencapaian diplomatik besar bagi Trump. Dua pejabat senior AS menyebut Amerika akan mengerahkan sekitar 200 tentara sebagai bagian dari satuan tugas gabungan untuk menjaga stabilitas Gaza. Satuan itu juga akan melibatkan personel dari Mesir, Qatar, Turkiye, dan kemungkinan Uni Emirat Arab.

Vinicius Junior saat berlaga di lapangan hijau dalam balutan seragam Real Madrid.
Berita

Ringkasan Berita: Arsenal dikabarkan telah mencapai kesepakatan awal dengan agen Vinicius, meski transfer masih bergantung pada keputusan sang pemain dan negosiasi dengan Real Madrid. Real Madrid mematok harga lebih dari 160 juta euro untuk melepasnya, sementara negosiasi kontrak baru masih buntu karena perbedaan soal hak citra dan nilai kontrak. Vinicius memiliki 3 opsi: perpanjang kontrak dengan Real Madrid, menerima tawaran pindah ke klub…