Sidoarjo – Tim SAR gabungan terus berupaya mencari 59 korban yang diduga masih terjebak di reruntuhan mushala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat (3/10/2025). Mushala tersebut ambruk pada Selasa (30/9/2025) lalu.
Insiden ini memicu keprihatinan berbagai pihak.
Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Syaiful Huda, menilai tragedi ini sebagai indikasi lemahnya dukungan infrastruktur negara terhadap pesantren.
“Mayoritas pesantren selama ini diselenggarakan atas swadaya publik,” ujar Syaiful Huda. “Di sinilah harusnya komitmen negara hadir untuk membantu kalangan pesantren.”
Saat kejadian, ratusan santri sedang melaksanakan shalat Ashar berjamaah di mushala Asrama Putra Ponpes Al-Khoziny.
Diduga, struktur pondasi yang tidak kuat menahan beban menjadi penyebab ambruknya bangunan.
Syaiful Huda menambahkan, kontribusi besar pesantren terhadap bangsa belum sepenuhnya didukung negara, baik dari segi regulasi, anggaran, maupun pendampingan.
“Saat ini memang sudah ada UU Nomor 18/2019 tentang Pesantren, namun implementasi di lapangan juga masih lemah,” katanya.
Ia menyoroti adanya fenomena “penganaktirian” pesantren dalam alokasi bantuan dan pengakuan kesetaraan lulusan.












