Berita

Pemprov Jatim Modifikasi Cuaca Cegah Cuaca Ekstrem

110
×

Pemprov Jatim Modifikasi Cuaca Cegah Cuaca Ekstrem

Sebarkan artikel ini
pemprov-jatim-modifikasi-cuaca-cegah-dampak-cuaca-ekstrem
pemprov jatim modifikasi cuaca cegah dampak cuaca ekstrem

Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim) mengambil langkah antisipasi terhadap potensi cuaca ekstrem.

Operasi modifikasi cuaca (OMC) digelar untuk meminimalisir dampak buruk yang diperkirakan melanda sejumlah wilayah.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim, Gatot Soebroto, mengungkapkan operasi ini merupakan hasil koordinasi antara Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Dilakukan koordinasi antara Ibu Gubernur dan Kepala BNPB, sehingga diputuskan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca,” kata Gatot, Senin (15/9).

Gatot mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan prakiraan cuaca.

Cuaca ekstrem berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang, tanah longsor, dan angin puting beliung.

“Mengingat adanya potensi hujan intensitas sedang hingga lebat, kami mengimbau warga agar waspada dan memantau prakiraan cuaca secara berkala,” ujarnya.

BPBD Jatim sebelumnya telah menetapkan status siaga di 38 kabupaten/kota.

Langkah ini diambil sebagai respons terhadap prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda yang menyebutkan potensi cuaca ekstrem di 22 daerah di Jatim.

Penata Penanggulangan Bencana Ahli Madya BPBD Jatim, Sriyono, menyatakan seluruh perlengkapan dan logistik telah didistribusikan ke daerah.

Peralatan seperti tenda, perahu, dan kebutuhan makanan telah disiapkan. BPBD kabupaten/kota juga akan bersiaga 24 jam.

BMKG Juanda memprediksi cuaca ekstrem dapat memicu bencana seperti hujan lebat, banjir, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, hingga hujan es. Potensi ini diperkirakan berlangsung hingga 17 September 2025.

BMKG menjelaskan, fenomena ini dipicu oleh gangguan gelombang atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby, serta gangguan atmosfer Low Frequency.

Wilayah yang diperkirakan terdampak meliputi Bondowoso, Jember, Jombang, Kediri, Batu, Malang, Lumajang, Madiun, Mojokerto, Nganjuk, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Magetan, Ngawi, Ponorogo, Pacitan, Bojonegoro, Tuban, Banyuwangi, dan Trenggalek.

Masyarakat di daerah dengan topografi curam diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana seperti banjir, tanah longsor, jalan licin, pohon tumbang, serta berkurangnya jarak pandang.