Jakarta, Fenesia.com – Kawasan Greater Bay Area (GBA) di Tiongkok secara masif mengarahkan strategi ekspansi bisnisnya ke Asia Tenggara, dengan menempatkan Indonesia sebagai target pasar utama. Wilayah ekonomi yang mencakup Hong Kong, Shenzhen, Guangzhou, dan sembilan kota di Tiongkok Selatan tersebut kini berfokus pada sektor bernilai tambah tinggi, yakni kecerdasan buatan (AI), kendaraan listrik (EV), ekonomi digital, serta transisi energi.
Langkah strategis ini diambil di tengah dinamika restrukturisasi rantai pasok global. Kawasan GBA, yang memiliki populasi 88 juta jiwa dan skala ekonomi setara negara dengan ekonomi terbesar kesepuluh di dunia, memandang Indonesia sebagai pilar krusial dalam peta pertumbuhan ASEAN.
Associate Director-General of Investment Promotion Invest Hong Kong, Loretta Lee, menegaskan bahwa Indonesia memiliki posisi istimewa dalam strategi ekspansi mereka. Loretta merinci bahwa kombinasi antara bonus demografi, transformasi digital yang pesat, serta kebijakan hilirisasi industri yang agresif menjadi daya tarik utama bagi investor asal Hong Kong dan GBA.
“Indonesia memiliki tempat yang istimewa dalam strategi kami. Sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, Indonesia menawarkan potensi yang luar biasa, mulai dari pasar domestik yang kuat, demografi muda, transformasi digital yang cepat, rencana infrastruktur yang ambisius, hingga strategi hilirisasi industri yang berani,” ujar Loretta Lee dikutip dari laman resmi InvestHK.
Sektor ekonomi digital menjadi garda terdepan dalam arus investasi ini. Populasi muda Indonesia yang sangat terkoneksi secara digital mendorong pertumbuhan eksponensial di bidang fintech, layanan cloud, hingga perdagangan elektronik. Selain itu, pengembangan ekonomi hijau mulai dilirik sebagai magnet investasi baru, mencakup rantai pasok baterai kendaraan listrik dan pembiayaan berkelanjutan.
“Perusahaan Hong Kong secara aktif menjajaki energi terbarukan, rantai pasok kendaraan listrik, material baterai, manajemen karbon, infrastruktur berkelanjutan, dan pembiayaan hijau, yang semuanya sejalan dengan ambisi Indonesia untuk menjadi pusat manufaktur kendaraan listrik dan transisi energi regional,” tambahnya.
Ketertarikan konkret juga terlihat di sektor otomotif roda dua. CEO One Energy (HK) Limited, Kevin To, mengungkapkan bahwa Indonesia adalah pasar yang sangat potensial dengan proyeksi peralihan lebih dari 120 juta sepeda motor ke kendaraan listrik. Pihaknya kini tengah menjajaki pembentukan usaha patungan (joint venture) dengan mitra lokal guna membangun fasilitas manufaktur di dalam negeri.
“Kami berbicara tentang membangun joint venture dengan perusahaan lokal untuk masuk ke Indonesia dan menyediakan layanan ini, serta membangun fasilitas manufaktur di Indonesia,” kata Kevin To.
Di sisi lain, Ketua Komite Bilateral Hong Kong dan Makau Kadin Indonesia, Suwito, menyoroti bahwa peran Hong Kong sebagai investor sering kali tidak terlihat secara kasat mata. Padahal, Hong Kong merupakan investor asing terbesar kedua di Indonesia, bahkan menempati posisi puncak jika digabungkan dengan investasi dari Tiongkok daratan.
“Hong Kong sebenarnya merupakan investor asing terbesar kedua di Indonesia. Jika digabungkan dengan Cina, maka posisinya menjadi nomor satu,” ungkap Suwito.
Pemerintah Indonesia sendiri menyambut baik kolaborasi ini. Direktur Sumber Daya dan Industrialisasi Kementerian Luar Negeri RI, Awidya Santikajaya, menyatakan bahwa Hong Kong dipandang sebagai hub strategis bagi modal dan teknologi yang mampu mengakselerasi transformasi digital nasional.
“Kami melihat Hong Kong sebagai hub untuk modal, teknologi, dan perusahaan yang memiliki jangkauan internasional. Kami melihat hubungan antara Indonesia dan Greater Bay Area secara sangat positif,” jelas Awidya.
Chief Executive Hong Kong Special Administrative Region, John Lee, menambahkan bahwa pihaknya terus memperkuat peran sebagai penghubung investasi internasional melalui integrasi GBA. Fokus pada smart city, infrastruktur digital, dan inovasi teknologi dipastikan akan menjadi fondasi baru bagi kemitraan ekonomi masa depan antara Hong Kong, GBA, dan Indonesia.







