Jakarta – Kawasan Gelora Bung Karno (GBK) akan dikelola oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara).
CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan alasan di balik pengalihan pengelolaan aset yang sebelumnya berada di bawah Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) ini.
Rosan menilai, meskipun GBK memiliki nilai aset yang sangat besar, pemanfaatan dan pengembalian investasinya masih terbatas.
“Selama ini tidak ada yang fokus memperhatikan pengembangan GBK,” ujar Rosan di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Selasa (29/4), usai acara BSI Global Finance Summit 2025.
Rosan berjanji Danantara akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan GBK.
Ia menekankan pentingnya memaksimalkan potensi GBK agar memberikan dampak lebih besar bagi masyarakat.
“PR-nya sangat besar, tetapi kami akan berupaya menjadikan GBK ikon baru Jakarta dan Indonesia,” tegasnya.
Sebelumnya, Rosan juga menyampaikan bahwa aset negara di bawah Kemensetneg, termasuk GBK, akan dikelola Danantara.
Hal ini disampaikannya usai Town Hall Meeting di JCC Senayan, Jakarta, Senin (28/4). “GBK dan seluruh lokasi di sini, pesan Pak Prabowo (Presiden), akan dimasukkan ke dalam Danantara,” jelas Rosan.
Nilai aset GBK mencapai US$25 miliar atau sekitar Rp420 triliun.
Dengan tambahan aset GBK, total aset yang dikelola Danantara (AUM) akan bertambah dari US$980 miliar menjadi sekitar US$1 triliun atau sekitar Rp16,8 ribu triliun, sesuai target Presiden Prabowo.







