Ecozone

Menilik Peluang Saham Grup Bakrie Usai Lonjakan Harga Pasar

8
×

Menilik Peluang Saham Grup Bakrie Usai Lonjakan Harga Pasar

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan harga saham emiten Grup Bakrie di layar monitor bursa efek
Saham Grup Bakrie mencatatkan lonjakan harga signifikan di tengah musim laporan keuangan semester pertama tahun 2026.

Jakarta – Saham-saham emiten di bawah naungan Grup Bakrie mencatatkan lonjakan harga signifikan hingga ratusan persen dalam satu bulan terakhir, memicu perhatian pelaku pasar di tengah musim pelaporan kinerja keuangan semester pertama pada Jumat (7/8/2026).

Dilansir dari Katadata.co.id, fenomena reli harga saham tersebut terjadi justru saat mayoritas entitas bisnis grup tersebut menunjukkan pelemahan kinerja fundamental atau penurunan laba dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Saham PT Inderdemia Capital Tbk (MDIA) memimpin kenaikan dengan apresiasi harga sebesar 252,11% dalam sebulan ke level Rp 250 per saham.

Menanggapi lonjakan tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah meminta klarifikasi dari manajemen MDIA.

Dalam keterbukaan informasi, MDIA menegaskan bahwa tidak ada informasi atau fakta material maupun rencana aksi korporasi yang dapat memengaruhi nilai efek atau keputusan investasi pemodal.

Selain MDIA, saham PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) naik 100%, PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) sebesar 75,76%, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) 69,57%, dan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) 65,38%.

Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia, Ahmad Faris Mu’tashim, menilai pergerakan saham Grup Bakrie didorong oleh sentimen yang berbeda-beda pada masing-masing emiten.

Menurut Ahmad, saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mendapat katalis dari aksi korporasi right issue, sementara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) dipengaruhi oleh revisi rencana kerja dan anggaran biaya sektor pertambangan serta fluktuasi harga komoditas.

Ia menambahkan bahwa lonjakan harga saham MDIA terjadi tanpa adanya katalis yang jelas.

“Kami melihat pergerakan saham dari grup Bakrie ini akan cenderung mixed mengikuti sentimen yang mengiringi masing-masing saham,” kata Ahmad.

Meski reli sempat terjadi, Ahmad melihat pergerakan harga saham tersebut mulai kehilangan momentum, terlihat dari pola long upper shadow yang mengindikasikan peningkatan tekanan jual.

Sebaliknya, analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan pergerakan saham Grup Bakrie masih memiliki potensi kenaikan hingga pekan depan.

Herditya menetapkan target harga untuk BNBR di kisaran Rp 122-134, BUMI Rp 194-204, BRMS Rp 665-705, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) Rp 1.455-1.610, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) Rp 510-535, VKTR Rp 965-1.000, serta JGLE Rp 115-123.

Kinerja keuangan semester I 2026 menunjukkan BUMI mencatatkan laba bersih sebesar US$ 58,85 juta, melonjak 188,4% secara tahunan.

Di sisi lain, laba bersih BRMS turun 43,75% menjadi US$ 12,92 juta, sementara VKTR mencatat penurunan laba 76,32% menjadi Rp 1,12 miliar.

ELTY membukukan rugi bersih sebesar Rp 18,05 miliar, atau membengkak 129,06% dibandingkan periode sebelumnya.

Rugi bersih JGLE tercatat menyusut 16,3% menjadi Rp 17,51 miliar pada periode yang sama.

Data perdagangan menunjukkan emiten lain seperti PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) saat ini masih berada dalam status suspensi oleh otoritas bursa.