Ecozone

Laba Peritel Tergerus Akibat Perang Diskon dan Kenaikan Biaya

5
×

Laba Peritel Tergerus Akibat Perang Diskon dan Kenaikan Biaya

Sebarkan artikel ini
Suasana pusat perbelanjaan di Jakarta yang dipadati pengunjung saat periode diskon
Para pelaku usaha ritel menghadapi tekanan margin keuntungan akibat strategi diskon masif di tengah kondisi ekonomi yang menantang.

Jakarta – Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) melaporkan bahwa para pelaku usaha ritel di dalam negeri kini menghadapi tekanan margin keuntungan yang semakin tipis akibat strategi pemberian diskon masif untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang menantang pada Kamis (6/8/2026).

Dilansir dari laporan Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia, fenomena penurunan laba ini terjadi meskipun volume penjualan secara keseluruhan terus menunjukkan tren peningkatan di berbagai pusat perbelanjaan.

Ketua Umum Hippindo, Budihardjo Iduansjah, menjelaskan bahwa kenaikan omzet tidak secara otomatis diikuti oleh pertumbuhan laba karena perusahaan harus mengorbankan margin demi mempertahankan minat belanja konsumen.

“Omzet naik, tapi memang ada penurunan profit, itu memang strategi untuk menaikkan penjualan dengan menekan profit,” kata Budihardjo Iduansjah.

Tekanan terhadap profitabilitas ini semakin diperparah oleh pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat yang meningkatkan biaya operasional bagi para importir barang konsumsi.

Pelaku usaha saat ini berupaya menahan kenaikan harga jual produk agar tetap kompetitif di pasar, sehingga beban kenaikan biaya tersebut lebih banyak diserap oleh internal perusahaan.

“Pelemahan rupiah juga menggerus profit kami karena kami berusaha menstabilkan harga,” ujar Budihardjo Iduansjah.

Dampak dari pelemahan kurs tersebut telah memaksa peritel menaikkan harga sejumlah produk impor di pasar domestik sebesar 5% hingga 10% dalam satu hingga dua bulan terakhir.

Penyesuaian harga ini dilakukan lebih awal untuk menutupi biaya pengadaan yang melonjak, sehingga tidak menunggu hingga memasuki periode kuartal IV 2026.

Data Bloomberg mencatat bahwa Rupiah sempat berada di level Rp18.027 per Dolar AS sebelum akhirnya menguat ke posisi Rp17.913 per Dolar AS.

Menghadapi kondisi tersebut, Hippindo mendesak pemerintah untuk memberikan dukungan kebijakan yang dapat menekan biaya operasional pelaku usaha secara signifikan.

Efisiensi internal perusahaan diharapkan dapat terbantu melalui percepatan proses perizinan, perbaikan sistem logistik, serta digitalisasi layanan yang lebih optimal.

“Dengan online mungkin bisa menekan biaya sehingga biaya-biaya yang tidak perlu bisa ditekan,” kata Budihardjo Iduansjah.

Pihak asosiasi menegaskan bahwa apabila efisiensi tercapai, maka ruang keuntungan perusahaan dapat kembali meningkat dan memungkinkan pelaku usaha untuk melakukan investasi lebih lanjut.

Selain itu, pelaku usaha tetap membuka peluang untuk melakukan penyesuaian harga kembali jika nilai tukar mata uang domestik menunjukkan penguatan yang lebih stabil terhadap mata uang asing ke depannya.

Strategi pemberian potongan harga akan tetap dipertahankan sebagai langkah utama untuk memacu konsumsi rumah tangga di tengah tekanan ekonomi yang masih berlangsung.

Ketergantungan terhadap impor untuk kategori barang tertentu membuat peritel terus memantau pergerakan pasar untuk menentukan kebijakan harga selanjutnya.