Ecozone

Pemda Jajaki Kerja Sama DAMRI, Sinyal Ekspansi Bus Listrik Daerah

5
×

Pemda Jajaki Kerja Sama DAMRI, Sinyal Ekspansi Bus Listrik Daerah

Sebarkan artikel ini
Armada bus listrik DAMRI berwarna putih dengan aksen biru yang terparkir di area operasional.
Perum DAMRI menjajaki kerja sama dengan pemerintah daerah untuk memperluas operasional bus listrik di berbagai wilayah Indonesia.

Jakarta – Perum DAMRI menjajaki rencana perluasan operasional armada bus listrik ke sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Medan, Makassar, Bali, dan Lombok, guna mempercepat transisi energi pada sektor transportasi publik Kamis (6/8/2026).

Dilansir dari MSN, langkah strategis ini dilakukan melalui diskusi awal dengan pemerintah daerah setempat untuk merumuskan potensi kerja sama operasional yang berkelanjutan.

President Sales and Marketing DAMRI, Teguh Aditya Dharma, menyatakan bahwa pihaknya menargetkan pengoperasian bus listrik dapat segera dimulai secara bertahap di berbagai daerah tahun ini.

Hingga saat ini, DAMRI tercatat telah mengoperasikan 316 unit bus listrik untuk layanan Transjakarta dari target total sebanyak 500 unit.

“Kami sudah mulai beberapa penjajakan, bahkan dari dishub-dishub itu sudah coba berkunjung ke kami untuk mengetahui gimana sih pengoperasian bus listrik,” kata Teguh Aditya Dharma.

Pihak DAMRI menyatakan kesiapan untuk menanamkan investasi awal berupa satu stasiun pengisian daya dan empat unit bus listrik sebagai langkah percontohan di daerah yang berminat.

“Enggak usah nunggu tahun depan, enggak usah nunggu beberapa tahun lagi, tahun ini pun dimulai dengan bertahap harusnya bisa,” kata Teguh Aditya Dharma.

Ekspansi ini memerlukan dukungan penuh dari pemerintah pusat untuk memastikan kesiapan ekosistem pendukung, mulai dari infrastruktur pengisian daya hingga ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten.

Pengembangan bus listrik juga menuntut ketersediaan pasokan listrik yang stabil serta kondisi jalan yang memadai di wilayah operasional baru tersebut.

CEO Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menilai transisi ini krusial untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) serta mengurangi beban subsidi negara secara signifikan.

Peralihan ke kendaraan listrik juga diproyeksikan mampu menurunkan volume impor minyak nasional sekaligus menekan emisi gas rumah kaca di sektor transportasi.

Bagi operator, penggunaan bus listrik memberikan keuntungan melalui efisiensi biaya operasional dan potensi pendapatan tambahan dari perdagangan karbon.

“Dampak pada fiskal negara bagus, pada akuntansi operator sangat bagus, kemudian manfaat untuk publik juga bagus karena polusi udara berkurang,” kata Fabby Tumiwa.

Beberapa daerah tujuan ekspansi sebenarnya telah memiliki pengalaman mengoperasikan bus listrik, meskipun saat ini jumlahnya masih terbatas.

Keberhasilan program ini bergantung pada sinergi antara BUMN, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan terkait dalam menyiapkan infrastruktur yang dibutuhkan.

DAMRI optimistis bahwa integrasi sistem transportasi listrik dapat meningkatkan kualitas layanan publik sekaligus mendukung target pemerintah dalam mencapai netralitas karbon.