Ecozone

Konflik Timur Tengah dan Saham Chip Bayangi Pergerakan Wall Street

12
×

Konflik Timur Tengah dan Saham Chip Bayangi Pergerakan Wall Street

Sebarkan artikel ini
Tampilan layar perdagangan saham di Wall Street dengan grafik indeks yang fluktuatif
Bursa saham Wall Street ditutup bervariasi di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan pada sektor semikonduktor.

New York – Bursa saham Amerika Serikat ditutup dengan performa bervariasi pada Senin (27/7/2026) akibat tekanan pada sektor semikonduktor serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran investor global.

Dilansir dari CNBC International, indeks S&P 500 mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,05% ke level 7.411,98, sementara Dow Jones Industrial Average menguat 235,60 poin atau 0,46% ke posisi 51.947,25 berkat lonjakan saham Apple sebesar 3,5%.

Sebaliknya, indeks Nasdaq Composite tertekan 0,64% dan ditutup pada level 24.975,82 setelah saham-saham sektor teknologi mengalami koreksi signifikan di tengah sesi perdagangan.

Saham Intel memimpin pelemahan dengan penurunan hampir 8%, diikuti oleh koreksi pada Broadcom sebesar 2,7%, Advanced Micro Devices sebesar 3,3%, serta Micron Technology yang merosot 7%.

Sentimen pasar sempat membaik pada awal perdagangan setelah muncul laporan mengenai potensi upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran yang difasilitasi oleh Tiongkok.

Namun, optimisme tersebut meredup setelah Presiden Donald Trump menyatakan tengah mempertimbangkan opsi serangan militer skala besar terhadap Iran sebagai respons atas eskalasi konflik di Laut Merah.

“Saya sedang mempertimbangkan serangan besar-besaran, lebih besar dari sebelumnya, dan saya hampir mengambil keputusan karena kami sudah siap untuk itu,” kata Donald Trump.

Laporan dari The New York Times mengonfirmasi bahwa Presiden Donald Trump telah mengadakan pertemuan intensif dengan para penasihat utama untuk membahas peningkatan aksi militer di kawasan tersebut.

Dinamika konflik tersebut berdampak langsung pada pasar energi, di mana harga minyak mentah Brent sempat anjlok sebelum akhirnya ditutup pada level US$96,78 per barel.

Kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate juga mengalami pelemahan sebesar 3% dan menetap di harga US$89,31 per barel pada penutupan pasar akhir pekan lalu.

Direktur Investasi U.S. Bank Asset Management Group, Bill Northey, memperingatkan bahwa gangguan pada aliran hidrokarbon dapat memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi stabilitas global.

Bill Northey menambahkan bahwa meskipun kebijakan suku bunga diperkirakan tetap stabil, fokus utama otoritas moneter saat ini adalah mengembalikan tingkat inflasi ke target yang telah ditetapkan sebelumnya.

Dia menekankan bahwa investor harus tetap selektif dalam memilih sektor yang memiliki prospek pertumbuhan laba kuat untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi hingga tahun 2027.

“Kita hanya perlu memahami bahwa akan ada beberapa arus sentimen yang terjadi di dalam dan di sekitar sektor tersebut,” kata Bill Northey.

Secara akumulatif, indeks S&P 500 dan Nasdaq mencatatkan penurunan mingguan selama dua periode berturut-turut, masing-masing sebesar 0,6% dan 2,1%.

Indeks Dow Jones juga tidak terlepas dari tren negatif dengan mencatatkan penurunan mingguan sebesar 0,4%, sekaligus menandai pelemahan selama tiga pekan beruntun.