London – Paparan sinar matahari selama musim panas di negara empat musim ternyata belum menjamin kecukupan vitamin D dalam tubuh.
Studi terbaru dari Newcastle University, Inggris, mengungkapkan bahwa defisiensi nutrisi ini tetap umum terjadi meski pada bulan-bulan paling cerah dalam setahun.
Peneliti nutrisi, Bernard Corfe, menyebut hasil ini cukup mengejutkan karena kadar vitamin D tidak kunjung membaik saat musim panas.
Padahal, periode tersebut seharusnya menjadi momen pemulihan optimal bagi tubuh.
Riset yang berlangsung sejak Desember 2024 hingga Agustus 2025 ini melibatkan 299 responden.
Separuh dari partisipan merupakan lansia berusia di atas 65 tahun, sementara sisanya adalah orang dewasa muda dengan kulit lebih gelap.
Hasil riset menunjukkan lebih dari 50 persen responden lansia memiliki kadar vitamin D di bawah ambang batas normal.
Kondisi tersebut bahkan lebih parah pada kelompok orang dewasa muda, dengan angka kekurangan mencapai lebih dari 72 persen.
Vitamin D merupakan nutrisi unik yang diperoleh melalui asupan makanan dan diproduksi mandiri oleh kulit saat terpapar sinar ultraviolet B (UVB).
Defisiensi vitamin ini berkaitan erat dengan penurunan kesehatan mental, termasuk risiko depresi, serta potensi penyakit kronis seperti kanker dan diabetes.
Corfe menjelaskan terdapat tiga faktor utama yang menghambat produksi vitamin D meski sinar matahari tersedia.
Pertama, faktor usia membuat efisiensi kulit dalam memproduksi vitamin D menurun drastis.
Kedua, tingginya kandungan melanin pada kulit berfungsi layaknya tabir surya alami yang menghalangi penyerapan sinar UV.
Terakhir, faktor geografis wilayah belahan bumi utara menyebabkan intensitas sinar matahari cenderung relatif lemah bagi tubuh.







