Berita

Ratusan Pakar Global Mendesak Pemerintah Segera Antisipasi Dampak Radikal Kecerdasan Buatan

23
×

Ratusan Pakar Global Mendesak Pemerintah Segera Antisipasi Dampak Radikal Kecerdasan Buatan

Sebarkan artikel ini
peringatan-16-pemenang-nobel:-hati-hati-ai-rebut-kerjaan-manusia
peringatan 16 pemenang nobel: hati hati ai rebut kerjaan manusia

Jakarta – Lebih dari 200 pakar ekonomi, peneliti, dan pelaku industri global mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk segera merespons pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Sebanyak 16 peraih Hadiah Nobel termasuk dalam kelompok ini yang merilis surat terbuka bertajuk “We Must Act Now”.

Mereka memperingatkan potensi transformasi ekonomi dunia yang radikal dalam satu dekade mendatang.

Para pakar menilai akselerasi teknologi ini akan melampaui skala Revolusi Industri dengan durasi yang jauh lebih singkat.

Surat tersebut menyoroti ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) massal sekaligus potensi peningkatan standar hidup masyarakat secara signifikan.

Risiko dan peluang ini dinilai tidak akan terkelola dengan baik tanpa langkah antisipatif dari pemerintah serta industri untuk memahami dampak AI terhadap tenaga kerja global.

Kelompok tersebut mendorong pembentukan insentif, aturan pelindung, serta lembaga khusus guna memastikan AI mampu melengkapi kemampuan manusia.

Tokoh-tokoh terkemuka yang terlibat di antaranya peraih Nobel dari MIT, Daron Acemoglu dan Simon Johnson, serta ekonom NYU, Michael Spence.

Sejumlah pelaku industri turut menandatangani surat ini, seperti mantan CEO Google Eric Schmidt, CFO OpenAI Sarah Friar, dan salah satu pendiri Anthropic, Jack Clark.

Surat ini tidak memuat solusi teknis konkret karena lebih berfungsi sebagai kampanye kesadaran publik mengenai tantangan global saat ini.

Inisiatif tersebut menjadi unik karena menyatukan pandangan kelompok yang optimistis hingga skeptis terhadap kapasitas AI dalam mengubah lanskap ketenagakerjaan.

Ekonom Stanford sekaligus koordinator surat, Erik Brynjolfsson, mengakui adanya pergeseran pandangan yang mencolok di kalangan akademisi terkait isu ini.

Brynjolfsson menyatakan kekhawatirannya akan ketidaksiapan dunia dalam menghadapi perubahan besar yang akan datang.

Menurutnya, masih terdapat celah besar dalam kesiapan global untuk menghadapi “tsunami” transformasi teknologi tersebut.