Ecozone

Strategi ANTM dan INCO Wujudkan Ambisi Hilirisasi Nikel Indonesia

15
×

Strategi ANTM dan INCO Wujudkan Ambisi Hilirisasi Nikel Indonesia

Sebarkan artikel ini
64a89efa28e8adc81e553e8e581a9133.jpg
64a89efa28e8adc81e553e8e581a9133.jpg

Jakarta, Fenesia.com – Indonesia kini secara agresif mentransformasi sektor pertambangan nikel dari sekadar eksportir bahan mentah menjadi pusat ekosistem global kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

Strategi hilirisasi ini didorong oleh cadangan bijih nikel masif yang mencapai 5,3 hingga 5,9 miliar ton per tahun 2025.

Program strategis nasional ini bertujuan mengintegrasikan seluruh rantai pasok industri, mulai dari penambangan, pengolahan, hingga daur ulang baterai.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, menyatakan bahwa terdapat sejumlah faktor yang menopang prospek industri nikel dalam jangka panjang.

“Sentimen positif nikel seperti potensi peningkatan nilai tambah ekspor produk olahan dibandingkan bijih mentah serta dukungan pemerintah terhadap pengembangan rantai pasok baterai nasional,” kata Nafan kepada Katadata, Kamis (9/7).

Ia menambahkan, keberhasilan sektor ini sangat bergantung pada kebijakan hilirisasi, peningkatan investasi smelter, serta pertumbuhan permintaan kendaraan listrik dunia.

Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan seperti fluktuasi harga global, perlambatan ekonomi, dan perubahan teknologi baterai tetap menjadi risiko nyata.

Selain itu, besarnya investasi yang diperlukan untuk proyek hilirisasi berpotensi menekan arus kas perusahaan pada tahap awal pembangunan.

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi salah satu pemain kunci yang berada di garis depan dalam upaya tersebut.

Perusahaan ini menargetkan pembangunan rantai industri utuh yang mencakup produksi nickel powder, nikel sulfat, hingga fasilitas daur ulang baterai.

Kerja sama strategis dengan Contemporary Amperex Technology Co Limited (CATL) menjadi langkah konkret Antam dalam membangun ekosistem baterai senilai hampir US$ 6 miliar.

Direktur Utama Antam, Untung Budiharto, menegaskan bahwa perusahaan terus menjaga momentum pertumbuhan meski menghadapi dinamika pasar yang kompleks.

“Dengan fondasi operasional yang solid dan kondisi keuangan yang sehat, perusahaan optimistis menjaga momentum pertumbuhan serta menghadapi dinamika global melalui strategi yang terukur dan berkelanjutan,” ujar Untung.

Di sisi lain, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memilih jalan transformasi melalui pengembangan tiga proyek strategis yang dikenal sebagai Indonesia Growth Project (IGP).

Vale mengedepankan operasional berbasis energi rendah karbon dengan memanfaatkan pembangkit listrik tenaga air untuk mendukung produksi nikel berkelanjutan.

Langkah ini terbukti efektif menarik kepercayaan lembaga keuangan global melalui perolehan fasilitas pinjaman sindikasi senilai US$ 750 juta yang mengalami kelebihan permintaan.

Presiden Direktur sekaligus CEO Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, menegaskan bahwa dana tersebut akan mempercepat pembangunan proyek hilirisasi di Sorowako, Morowali, dan Pomalaa.

“Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan nikel berkualitas tinggi dengan jejak karbon yang lebih rendah, sekaligus mendukung pengembangan industri hilirisasi nasional dan transisi energi global,” ujar Bernardus.

Menurut dia, integrasi prinsip keberlanjutan ke dalam investasi merupakan kunci untuk memenuhi tuntutan pasar global yang semakin ketat.

Analis Panin Sekuritas, Elandry Pratama, sependapat bahwa prospek industri nikel Indonesia tetap menarik berkat cadangan melimpah dan dukungan kebijakan pemerintah.

Ia menilai bahwa peluang bagi perusahaan untuk mengembangkan produk bernilai tambah tinggi masih terbuka lebar di masa depan.

Baginya, investor hanya perlu tetap mencermati volatilitas harga serta perkembangan teknologi baterai yang dapat memengaruhi permintaan logam tersebut di masa mendatang.