Jakarta, Fenesia.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia membuka perdagangan awal pekan, Senin (6/7/2026), dengan penguatan sebesar 17,50 poin atau 0,30 persen ke level 5.893,28.
Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya optimisme pasar global yang merespons positif sinyal kebijakan dovish dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
Indeks LQ45 yang menaungi 45 saham unggulan turut mencatatkan apresiasi sebesar 1,30 poin atau 0,22 persen ke posisi 583,08.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, dalam kajiannya di Jakarta, Senin (6/7/2026), menyebutkan bahwa sentimen positif global dipicu oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang berada di bawah ekspektasi pasar.
Kondisi tersebut memperbesar peluang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter mereka dalam waktu dekat.
“Pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga dan meningkatkan posisi pada aset berisiko,” ujar Liza dikutip dari kajian risetnya, Senin (6/7/2026).
Di sisi lain, pasar domestik masih menghadapi tantangan dari neraca perdagangan yang mencatatkan defisit, kontraksi pada sektor manufaktur, serta peringatan dari Fitch Ratings terkait cadangan devisa.
Liza menambahkan bahwa meredanya ketegangan di Timur Tengah, khususnya pasca-kemajuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, memberikan dampak positif bagi stabilitas harga energi global.
“Perkembangan tersebut membantu menekan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global,” ujar Liza.
Sementara itu, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan mulai memperketat pengawasan pajak di sektor ekonomi digital.
Kebijakan ini diimplementasikan melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 37 Tahun 2025 yang mewajibkan marketplace untuk memungut PPh Pasal 22 sebesar 0,5 persen mulai 1 Agustus 2026.
Langkah ini bertujuan memverifikasi omzet wajib pajak, terutama pelaku usaha dengan omzet di atas Rp 4,8 miliar per tahun yang belum berstatus sebagai Pengusaha Kena Pajak.
Secara teknis, pergerakan pasar ke depan akan dipengaruhi oleh sejumlah data ekonomi penting, seperti ISM Services PMI Amerika Serikat, risalah rapat FOMC, serta data inflasi dari China.
Di tingkat regional, bursa saham Asia bergerak variatif pada Senin pagi, di mana indeks Nikkei melemah 0,93 persen, sementara Hang Seng mencatatkan penguatan signifikan sebesar 1,25 persen.
Berdasarkan data perdagangan periode 29 Juni hingga 3 Juli 2026, Bursa Efek Indonesia mencatat IHSG sempat terkoreksi 0,35 persen ke level 5.875,780.
Selama periode tersebut, nilai kapitalisasi pasar bursa juga mengalami penurunan tipis sebesar 0,14 persen menjadi Rp 10.287 triliun.
Pihak bursa melalui keterangan resminya, Minggu (5/7/2026), menyatakan bahwa rata-rata frekuensi transaksi harian selama sepekan sebelumnya turun 16,71 persen menjadi 1,44 juta kali transaksi.
Meski demikian, bursa terus melakukan langkah strategis, termasuk penguatan infrastruktur siber melalui forum kolaborasi dengan Badan Siber dan Sandi Negara serta Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia.
Kegiatan edukasi pasar modal juga terus digencarkan untuk meningkatkan literasi di berbagai daerah, guna memperkuat basis investor domestik dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang menantang.







