Ecozone

Harga emas dunia menguat seiring meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Fed

14
×

Harga emas dunia menguat seiring meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Fed

Sebarkan artikel ini
c006a8625c1a4cd8afd35cba3eab2b2f.jpg
c006a8625c1a4cd8afd35cba3eab2b2f.jpg

New York, Fenesia.com – Harga emas dunia kembali menunjukkan tren penguatan signifikan di pasar global seiring dengan meredupnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan agresif kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).

Logam mulia ini kini berada di jalur yang tepat untuk mencatatkan kenaikan mingguan pertamanya sejak Mei lalu.

Data terbaru menunjukkan harga emas spot mencatatkan lonjakan sebesar 1,3 persen dan bertengger di level USD 4.176,94 per troy ons pada penutupan perdagangan Jumat (3/7).

Secara akumulatif, komoditas emas telah mencatatkan penguatan sebesar 2,2 persen sepanjang pekan ini.

Nilai emas dunia bahkan sempat mendekati level USD 4.200 per troy ons dalam pergerakan pasar baru-baru ini.

Sentimen pasar saat ini telah bergeser secara drastis terkait kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat tersebut.

Probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed mendatang kini turun menjadi kurang dari 20 persen.

Angka tersebut menunjukkan penurunan tajam dibandingkan posisi awal pekan ini yang sempat menyentuh angka sepertiga atau sekitar 33 persen.

Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, menjelaskan bahwa fenomena ini dipicu oleh perubahan perilaku para pelaku pasar.

Para trader mulai menutup posisi jual (short covering) yang sempat dibuka sebelumnya.

Langkah ini dilakukan secara bersamaan dengan pengurangan dorongan untuk melepas posisi beli (long position).

“Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang menjelaskan reli harga emas dalam beberapa hari terakhir,” ujar Bart Melek dalam analisis pasar yang dikutip dari Bloomberg, Minggu (5/7).

Namun, penguatan ini bukan berarti emas akan melesat tanpa batas di masa depan.

Bart Melek mengingatkan bahwa tekanan inflasi global diperkirakan masih akan terus bertahan dalam jangka panjang.

Ia memprediksi kenaikan harga emas akan memiliki batasan teknis yang cukup ketat.

“Kami memperkirakan harga emas hanya akan naik hingga menyentuh level resistensi di USD 4.280 per troy ons,” ujar Bart Melek.

Target harga yang lebih ambisius, seperti USD 5.300 per troy ons, dinilai belum dapat dipastikan tercapai hingga tahun depan.

Sentimen positif bagi emas ini juga didorong oleh rilis data fundamental ekonomi Amerika Serikat yang kurang memuaskan.

Data perekrutan tenaga kerja AS yang dirilis pada Kamis (2/7) menunjukkan perlambatan tajam sepanjang Juni.

Kondisi tersebut memberikan sinyal bahwa sektor tenaga kerja Amerika Serikat masih menghadapi tantangan berat.

Penurunan harga energi global juga turut memberikan kontribusi pada berkurangnya taruhan investor terhadap kebijakan pengetatan moneter.

Selama ini, kebijakan pengetatan moneter sering menjadi sentimen negatif bagi emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil (yield) secara langsung.

Investor kini terlihat lebih berhati-hati dalam memproyeksikan langkah lanjutan dari otoritas moneter AS.

Stabilitas emas ke depan akan sangat bergantung pada rilis data ekonomi makro AS selanjutnya.

Pasar akan memantau ketat setiap indikator ekonomi yang dapat memengaruhi keputusan The Fed di masa depan.