Ecozone

Strategi Grup Barito Bangkitkan Kinerja Usai Tekanan Saham Semester I

17
×

Strategi Grup Barito Bangkitkan Kinerja Usai Tekanan Saham Semester I

Sebarkan artikel ini
e1962fc930d25e22211454cbcd999a87.jpg
e1962fc930d25e22211454cbcd999a87.jpg

Jakarta – Grup Barito milik konglomerat Prajogo Pangestu mulai tancap gas melakukan serangkaian aksi korporasi strategis pada awal semester kedua 2026. Langkah ini diambil sebagai upaya pemulihan setelah saham-saham emiten di bawah naungan grup tersebut mengalami tekanan jual yang cukup tajam selama paruh pertama tahun ini.

Sepanjang periode 2 Januari hingga 20 Juni 2026, nilai kapitalisasi pasar perusahaan-perusahaan Grup Barito tergerus lebih dari 50 persen. Penurunan performa harga saham tersebut dipicu oleh sentimen negatif pasar, termasuk keluarnya sejumlah emiten seperti BREN, TPIA, dan CUAN dari indeks global MSCI.

PT Barito Pacific Tbk (BRPT) misalnya, mencatatkan koreksi harga sebesar 59,71 persen, sementara PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) tertekan hingga 68,06 persen. Kondisi serupa dialami PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang anjlok 76,77 persen, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) turun 76,85 persen, PT Petrosea Tbk (PTRO) terkoreksi 66,87 persen, dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) menyusut 67,34 persen.

Memasuki pekan pertama Juli, emiten-emiten tersebut mulai menunjukkan aktivitas yang lebih agresif. Salah satu aksi korporasi besar dilakukan oleh CDIA melalui anak usahanya, PT Chandra Shipping International (CSI), yang mengakuisisi 40 persen saham PT Armada Maritim Persada (AMP).

Transaksi yang melibatkan nilai investasi sebesar US$ 90 juta atau setara Rp 1,6 triliun tersebut ditandatangani pada Selasa (30/6). Investasi ini bertujuan mendukung ekspansi bisnis AMP di sektor angkutan laut dan layanan penunjang pertambangan, sekaligus memberikan potensi dividen bagi CDIA.

Langkah strategis lainnya dilakukan oleh TPIA yang melakukan perubahan skema perjanjian pinjaman dengan Aster Port and Terminal Pte Ltd dan Aster Power Pte Ltd. Melalui amendemen yang disepakati pada Selasa (30/6), perseroan menambahkan hak konversi atas fasilitas pinjaman senilai total US$ 140 juta.

Fleksibilitas ini memungkinkan Grup Barito untuk mengonversi sebagian atau seluruh pinjaman menjadi saham di masa mendatang. Pengaturan struktur pendanaan ini dinilai krusial untuk memperkuat posisi permodalan perusahaan dalam jangka panjang.

Di sektor operasional, PT Petrosea Tbk (PTRO) memperkuat sinergi internal dengan menjalin kerja sama sewa gardu listrik bersama PT Chandra Investa Prima. Infrastruktur tersebut akan digunakan untuk mendukung operasional tambang di Kalimantan Tengah dengan nilai sewa Rp 1,85 miliar per bulan.

Presiden Direktur Petrosea, Michael, menyatakan bahwa penggunaan infrastruktur gardu listrik untuk kendaraan tambang merupakan bagian dari strategi dekarbonisasi perusahaan. Inisiatif ini diharapkan mampu menekan emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi energi di lokasi operasional.

“Inisiatif ini sejalan dengan strategi Petrosea dalam mendorong praktik usaha berkelanjutan, termasuk upaya dekarbonisasi operasional melalui peningkatan efisiensi energi serta pengurangan emisi gas rumah kaca,” ujar Michael dalam keterangannya, Jumat (3/7).

Perusahaan menargetkan langkah ini dapat menciptakan ekosistem pertambangan yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Selain efisiensi biaya, penggunaan teknologi ini juga sejalan dengan dukungan perseroan terhadap pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik nasional.