Jakarta – Manajemen TikTok akhirnya buka suara menanggapi isu pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang menerpa Tokopedia dan ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial.
Perusahaan mengonfirmasi bahwa saat ini sedang melakukan langkah penyesuaian organisasi yang menyasar divisi riset dan pengembangan atau Research and Development (R&D).
Langkah restrukturisasi ini diambil sebagai upaya perusahaan untuk menyelaraskan operasional dengan target pertumbuhan jangka panjang yang lebih berkelanjutan.
Juru Bicara TikTok menyatakan bahwa penyesuaian tersebut ditujukan untuk memperkuat bisnis perusahaan, komunitas kreator, serta para penjual di dalam platform.
“Kami tengah menyelaraskan organisasi riset dan pengembangan pada ranah yang dapat mendorong pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan bagi bisnis kami, komunitas kreator, dan penjual di platform kami,” ujar Juru Bicara TikTok kepada awak media, Kamis (2/7).
Pihak manajemen mengakui bahwa keputusan untuk melakukan penyesuaian organisasi ini bukanlah hal yang mudah untuk diambil.
Saat ini, perusahaan mengklaim tengah memprioritaskan pemberian dukungan penuh kepada seluruh karyawan yang terdampak selama masa transisi berlangsung.
TikTok menegaskan bahwa komitmen mereka untuk mengembangkan Tokopedia dan ekosistem perdagangan digital di Indonesia tetap menjadi prioritas utama perusahaan.
Investasi berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas layanan bagi pengguna dan mitra penjual akan terus dilakukan demi menjaga performa platform.
“Kami akan terus berinvestasi untuk menjadikan Tokopedia sebagai platform yang lebih baik bagi pengguna dan penjual kami, serta terus memberdayakan pelaku usaha lokal dalam membangun ekosistem e-commerce yang berkelanjutan di Indonesia,” tambah Juru Bicara TikTok.
Klarifikasi ini muncul setelah beredarnya informasi di media sosial, khususnya melalui akun Instagram @ecommurz, yang menyebutkan adanya PHK besar-besaran oleh ByteDance selaku induk usaha TikTok di Tokopedia.
Unggahan tersebut menarasikan bahwa sekitar 90 persen pekerja Tokopedia terdampak oleh kebijakan tersebut.
Divisi yang dilaporkan paling banyak terkena imbas adalah R&D, Trust and Safety (TnS), serta divisi keuangan.
Lebih jauh, unggahan tersebut mengklaim bahwa perusahaan hanya mempertahankan sekitar 10 persen staf untuk menangani proyek-proyek yang masih berjalan.
Selain itu, muncul pula spekulasi mengenai peralihan sistem Tokopedia ke arah Tokopedia Lite yang diklaim menggunakan infrastruktur internal TikTok Shop.
Kendati demikian, dalam keterangan resminya, TikTok memilih untuk tidak mengonfirmasi angka pasti mengenai jumlah karyawan yang terkena PHK.
Perusahaan juga tidak memberikan tanggapan spesifik terkait klaim persentase pegawai yang dipertahankan atau transisi sistem ke arah infrastruktur tertentu.
TikTok hanya menekankan bahwa fokus utama penyesuaian organisasi ini terbatas pada fungsi R&D sebagai bagian dari strategi memperkuat fondasi bisnis di masa mendatang.
Langkah ini menjadi perhatian publik mengingat posisi Tokopedia sebagai salah satu pemain utama dalam ekosistem ekonomi digital di Indonesia.
Hingga saat ini, belum ada informasi lanjutan mengenai detail teknis dari proses transisi tersebut bagi para karyawan yang tersisa di perusahaan.







