Berita

Gedung Putih Batasi Peluncuran Model AI GPT 5.6 Milik OpenAI

17
×

Gedung Putih Batasi Peluncuran Model AI GPT 5.6 Milik OpenAI

Sebarkan artikel ini
alasan-gedung-putih-minta-openai-batasi-peluncuran-gpt-5.6
alasan gedung putih minta openai batasi peluncuran gpt 5.6

Jakarta – Pemerintah Amerika Serikat di bawah kendali Gedung Putih secara khusus menginstruksikan OpenAI untuk membatasi peluncuran model kecerdasan buatan (AI) terbarunya, GPT 5.6. Pemerintah menuntut agar akses terhadap teknologi dengan tingkat kecanggihan tinggi tersebut hanya diberikan kepada mitra terbatas yang telah mengantongi izin resmi.

Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa OpenAI dan pemerintah menilai kapabilitas GPT 5.6 setara dengan Claude Mythos. Claude Mythos merupakan model besutan Anthropic yang sempat dilarang peredarannya oleh otoritas AS tak lama setelah resmi diluncurkan.

Sebagai langkah kompromi agar peluncuran dapat berlangsung secara bertahap, OpenAI akhirnya menyetujui pembatasan akses tersebut. Keputusan ini diambil di tengah kondisi absennya regulasi federal yang definitif terkait pengaturan model AI generasi terbaru.

Informasi mengenai permintaan dari pemerintahan Donald Trump itu pertama kali terungkap melalui memo internal CEO OpenAI, Sam Altman, kepada para karyawannya. Altman menyebut pemerintah saat ini tengah melakukan peninjauan dan hanya menyetujui akses secara selektif.

“Kami sudah menegaskan kepada pemerintah AS bahwa sistem seperti ini bukanlah model jangka panjang yang kami inginkan,” kata Altman dalam memo tersebut, Jumat (27/8).

Ia menambahkan, pihaknya memiliki komitmen untuk terus bekerja sama dengan pemerintah maupun pelaku industri guna mencari pendekatan yang lebih berkelanjutan di masa mendatang.

Pihak Gedung Putih merespons dengan menyatakan kesiapan mereka untuk terus berkolaborasi bersama para pengembang AI. Kolaborasi ini dilakukan untuk merumuskan pendekatan kolektif dalam merespons tantangan pesatnya perkembangan teknologi.

OpenAI melalui keterangan resminya telah mengonfirmasi adanya pembatasan perilisan GPT 5.6 tersebut.

“Kami tidak ingin proses perizinan ketat dari pemerintah seperti ini menjadi standar jangka panjang,” tulis OpenAI dalam unggahannya.

Menurut perusahaan tersebut, prosedur yang ketat justru menghambat pengguna, pengembang, pelaku usaha, hingga tim pertahanan siber dan mitra global untuk mengakses alat-alat terbaik yang mereka butuhkan.

Meski demikian, OpenAI berharap dapat memperluas jangkauan akses model baru ini dalam beberapa minggu ke depan. Perusahaan juga menargetkan adanya aturan main yang lebih jelas bersama pemerintah untuk peluncuran-peluncuran selanjutnya.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump sempat menandatangani perintah eksekutif yang mewajibkan perusahaan AI dengan model canggih untuk menyerahkan produknya secara sukarela guna ditinjau pemerintah 30 hari sebelum dirilis. Hingga saat ini, sistem teknis untuk menopang aturan tersebut belum terbentuk.

Kondisi transisi ini memicu kebingungan di kalangan perusahaan AI terkait lembaga mana yang memiliki otoritas untuk mengatur regulasi tersebut. Ketidakpastian tampak dari alur koordinasi yang berbeda, di mana permintaan pembatasan untuk OpenAI datang langsung dari Gedung Putih, sementara larangan ekspor untuk Anthropic diterbitkan oleh Departemen Perdagangan.