Washington – Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangkaian serangan udara terhadap sejumlah target strategis milik Iran. Aksi militer ini dilakukan hanya berselang satu hari setelah Washington menargetkan fasilitas militer Teheran sebagai balasan atas serangan drone terhadap kapal kargo di Selat Hormuz.
Komando Pusat AS (Centcom) dalam pernyataannya menegaskan bahwa operasi tersebut merupakan respons langsung atas agresi berkelanjutan Iran terhadap jalur pelayaran komersial internasional. Fokus serangan AS mencakup infrastruktur pengawasan militer, sistem komunikasi, situs pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, serta kemampuan penebar ranjau milik Iran.
Pihak Teheran memberikan respons keras atas tindakan tersebut. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah meluncurkan operasi gabungan menggunakan rudal dan drone yang menyasar delapan situs militer Amerika Serikat yang tersebar di wilayah Kuwait dan Bahrain.
Melalui keterangan resmi, IRGC menegaskan bahwa setiap agresi lebih lanjut akan dibalas dengan tindakan yang lebih menghancurkan. Teheran juga memberikan peringatan tegas bahwa segala bentuk pelanggaran terhadap gencatan senjata akan mengakibatkan penghentian total seluruh proses diplomatik yang sedang berjalan.
Eskalasi ketegangan ini terjadi di tengah upaya Washington dan Teheran untuk merundingkan nota kesepahaman (MOU) guna mengakhiri konflik bersenjata. Pertikaian yang berkepanjangan ini tercatat telah memicu lonjakan harga minyak global secara signifikan serta mengakibatkan ribuan korban jiwa di kalangan warga sipil.
Situasi di lapangan kini semakin tidak menentu karena kedua pihak saling melontarkan tuduhan pelanggaran terhadap kesepakatan sementara yang baru ditandatangani kurang dari dua minggu lalu. Dokumen 14 poin tersebut sebelumnya mewajibkan kedua negara beserta sekutu masing-masing untuk menahan diri dari penggunaan kekerasan dan tidak memulai operasi militer satu sama lain.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui unggahan di platform Truth Social menyinggung mengenai ambang batas kesabaran pemerintahannya. Trump memperingatkan bahwa jika pendekatan rasional tidak lagi membuahkan hasil, Amerika Serikat akan terpaksa menyelesaikan konflik ini secara militer dengan konsekuensi fatal bagi eksistensi Republik Islam Iran.
Konflik ini berakar dari permusuhan yang dimulai oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu. Salah satu tujuan utama kesepakatan sementara tersebut adalah membuka kembali Selat Hormuz sebagai jalur pengiriman energi paling vital di dunia, yang saat ini sebagian besar telah ditutup oleh otoritas Iran.
Sebelumnya, perwakilan tingkat tinggi dari kedua negara telah melakukan perundingan mediasi di Swiss yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf. Meski Washington sempat mencabut sejumlah sanksi ekonomi terhadap Teheran sebagai itikad baik, pertempuran dan aksi saling tuding justru terus meningkat di lapangan.
Seorang pejabat Amerika Serikat yang enggan disebutkan namanya mengonfirmasi adanya serangan Iran terhadap fasilitas militer di Kuwait dan Bahrain. Hingga saat ini, pihak otoritas AS melaporkan bahwa belum ada laporan mengenai korban jiwa maupun kerusakan besar pada situs-situs strategis mereka di Timur Tengah.
Centcom menyatakan bahwa mereka telah memberikan kesempatan kepada Iran untuk menghormati perjanjian gencatan senjata. Namun, pihak militer AS menilai Teheran secara sengaja memilih untuk tidak mematuhinya, sehingga serangan balasan dianggap sebagai langkah yang tidak terelakkan demi menjamin keamanan pelayaran internasional.







