Peristiwa

Lima Calon Manajer Kopdes Merah Putih Meninggal Saat Latsarmil

14
×

Lima Calon Manajer Kopdes Merah Putih Meninggal Saat Latsarmil

Sebarkan artikel ini
8a52d426e7cd7a84f58db5c09b73ff74.jpg
8a52d426e7cd7a84f58db5c09b73ff74.jpg

Jakarta – Jumlah peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Militer (Latsarmil) dilaporkan bertambah menjadi lima orang hingga Sabtu (27/6/2026). Para peserta tersebut sebelumnya mengikuti pelatihan untuk calon pengelola Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).

Pihak penyelenggara mencatat para peserta meninggal dunia setelah mengalami sejumlah gangguan kesehatan selama masa pelatihan. Gejala medis yang dialami meliputi serangan panas atau heat stroke, henti jantung, hingga gangguan pernapasan akut.

Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan (BPSDM) Kementerian Pertahanan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya para peserta. Ia mewakili Kementerian Pertahanan dan Panitia Seleksi Nasional menyatakan belasungkawa kepada keluarga almarhum dan almarhumah.

Ketut menegaskan bahwa seluruh peserta mengikuti program SPPI atas dasar kesukarelaan tanpa unsur paksaan. Menurutnya, sejak tahap rekrutmen, peserta telah diberikan pemahaman bahwa program ini mencakup pembentukan karakter melalui bela negara dan pembekalan manajerial.

Ia menambahkan bahwa antusiasme peserta yang tinggi menunjukkan adanya keinginan kuat untuk berkontribusi dalam pembangunan desa dan memperkuat ekonomi kerakyatan. Peserta yang mengalami gangguan kesehatan diklaim telah mendapatkan penanganan medis di satuan pendidikan masing-masing sebelum dirujuk ke rumah sakit.

Kepala Staf Kepresidenan, Dudung Abdurachman, menyatakan bahwa seluruh peserta telah menjalani tes kesehatan ketat sebelum memasuki tahap pelatihan. Hingga saat ini, pihak pemerintah masih melakukan investigasi dan evaluasi mendalam terkait insiden tersebut.

Dudung menuturkan bahwa sejauh ini belum ditemukan indikasi kelalaian dalam pelaksanaan kegiatan. Ia menilai porsi latihan militer bagi peserta SPPI tidak tergolong berat, sehingga faktor kesehatan individu diduga menjadi penyebab utama munculnya gangguan fisik selama pelatihan.

Di sisi lain, relevansi Latsarmil bagi peserta SPPI kini mendapat sorotan tajam dari kalangan akademisi. Peneliti dari Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS)-Yusof Ishak, Made Supriatma, menilai pelatihan militer tidak memiliki kaitan langsung dengan tugas peserta sebagai pengelola koperasi dan kampung nelayan.

Made menyarankan agar pemerintah menghentikan pola pelatihan kemiliteran dan menggantinya dengan pembekalan profesional. Menurutnya, para calon pengelola desa lebih membutuhkan pelatihan terkait manajemen organisasi, akuntansi, pemasaran, dan tata kelola usaha.

Ia menduga bahwa Latsarmil dalam program SPPI merupakan upaya terselubung untuk merekrut anggota Komponen Cadangan (Komcad). Made berpendapat hal tersebut kurang tepat karena konsep Komcad seharusnya bersifat sukarela dan ditujukan bagi mereka yang sudah memiliki pekerjaan tetap, bukan sebagai syarat wajib bagi tenaga kerja baru.

Berikut adalah daftar lima peserta yang meninggal dunia dalam rangkaian Latsarmil SPPI:

1. Yonanda Muhammad Taufiq, wafat akibat henti jantung pada 17 Juni 2026 di Satdik Pusat Latihan Tempur TNI AD, Baturaja.
2. Anisa Muyassaroh, meninggal pada 18 Juni 2026 akibat heat stroke di Satdik Rindam Mulawarman, Balikpapan.
3. Novia Rahmadhani Sihotang, meninggal pada 23 Juni 2026 akibat komplikasi tuberkulosis di Pusat Bahasa Kodiklat TNI AU, Jakarta.
4. Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, meninggal pada 26 Juni 2026 karena sesak napas setelah dirawat di RSAU dr. Esnawan Antariksa.
5. Nola Dya Sari, meninggal pada 26 Juni 2026 di RSUD Abdul Azis, Singkawang, setelah mengalami sesak napas dan demam tinggi.