Internasional

Ketegangan Iran-AS Kembali Memanas Pasca Serangan Kapal Tanker

13
×

Ketegangan Iran-AS Kembali Memanas Pasca Serangan Kapal Tanker

Sebarkan artikel ini
0141ad6036c89c2b8943c6adfd8e118f.jpg
0141ad6036c89c2b8943c6adfd8e118f.jpg

London – Sebuah kapal tanker dilaporkan menjadi target serangan di Selat Hormuz pada Sabtu (27/6) waktu setempat.

Insiden ini memicu kekhawatiran baru mengenai eskalasi ketegangan yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan strategis tersebut.

Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris atau United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) mengonfirmasi adanya laporan serangan tersebut.

Dalam pernyataan resminya, UKMTO memastikan bahwa seluruh awak kapal berada dalam kondisi selamat.

Selain itu, otoritas terkait menyatakan tidak terdapat laporan kerusakan lingkungan atau kebocoran muatan akibat insiden tersebut.

Hingga saat ini, belum ada pihak maupun kelompok tertentu yang mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal tanker tersebut.

Namun, peristiwa ini terjadi hanya berselang dua hari setelah Iran dilaporkan menyerang kapal lain pada Kamis (25/6).

Serangan sebelumnya menargetkan sebuah kapal yang sedang melintasi perairan dekat Oman saat hendak meninggalkan kawasan Teluk Arab.

Rangkaian insiden ini mengindikasikan adanya risiko konflik yang kembali tidak terkendali antara Teheran dan Washington.

Padahal, kedua negara sebelumnya dikabarkan telah mencapai kesepakatan sementara untuk meredam ketegangan guna menuju perjanjian akhir.

Di sisi lain, pemerintah Bahrain melayangkan tuduhan kepada Iran atas serangan pesawat nirawak atau drone terhadap wilayah kerajaan tersebut pada Sabtu (27/6).

Pernyataan Bahrain muncul tidak lama setelah Iran mengumumkan telah menargetkan fasilitas militer AS sebagai aksi balasan.

Iran mengeklaim serangan tersebut merupakan respons atas serangan udara yang dilancarkan pihak Amerika pada malam sebelumnya.

Serangkaian peristiwa ini memperlihatkan rapuhnya kondisi gencatan senjata dalam konflik yang melibatkan Iran di kawasan Teluk.

AS sebelumnya melancarkan serangan udara sebagai respons atas serangan drone Iran terhadap kapal yang berusaha keluar dari Selat Hormuz pada Kamis lalu.

Menanggapi situasi keamanan yang tidak menentu, badan maritim di bawah pengawasan Angkatan Laut AS mengumumkan perluasan jalur pelayaran alternatif.

Pusat Informasi Maritim Bersama atau Joint Maritime Information Center menyatakan jalur di dekat pesisir Oman kini diperluas untuk lalu lintas kapal.

Langkah ini dipandang sebagai upaya AS untuk mendorong kelancaran kembali jalur strategis yang selama ini terganggu oleh konflik.

Di sisi lain, Iran tetap bersikeras menegaskan bahwa seluruh kapal yang melintas di Selat Hormuz wajib mematuhi perintah mereka.

Teheran bahkan mengeluarkan peringatan keras terkait rencana penerapan biaya transit bagi kapal-kapal yang melewati selat tersebut.

Tuntutan tersebut ditolak mentah-mentah oleh Amerika Serikat serta negara-negara Arab di kawasan Teluk.

Mereka menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur perairan internasional yang bersifat terbuka bagi perdagangan dunia.

Status ini tetap berlaku meskipun sebagian wilayah perairan tersebut berada dalam yurisdiksi teritorial Iran dan Oman.

Selat Hormuz merupakan urat nadi pelayaran energi paling krusial bagi ekonomi global.

Sebelum konflik berskala luas pecah pada akhir Februari lalu, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia melintasi kawasan ini.

Gangguan berkelanjutan di Selat Hormuz berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap keamanan energi dan stabilitas perdagangan internasional.