Berita

Industri Budidaya Ganja Dalam Ruangan Ternyata Picu Emisi Karbon Masif

14
×

Industri Budidaya Ganja Dalam Ruangan Ternyata Picu Emisi Karbon Masif

Sebarkan artikel ini
di-balik-kepulan-asap-ganja,-ada-ancaman-nyata-krisis-iklim
di balik kepulan asap ganja, ada ancaman nyata krisis iklim

Jakarta – Industri budidaya ganja, khususnya yang dilakukan di dalam ruangan (indoor), ternyata menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca dalam skala besar yang selama ini jarang diperhatikan. Berbagai riset dari perguruan tinggi dan lembaga penelitian kini mengungkap keterkaitan langsung antara metode produksi tersebut dengan isu perubahan iklim global.

Berdasarkan penilaian siklus hidup terhadap rantai produksi ganja di Amerika Serikat dalam jurnal One Earth edisi Maret 2025, industri ini menghasilkan emisi hingga 44 juta ton CO2 setiap tahunnya. Data komprehensif ini dipaparkan oleh Evan Mills, seorang peneliti afiliasi di Lawrence Berkeley National Laboratory.

Menurut Mills, besaran emisi tersebut setara dengan dampak pencemaran yang dihasilkan oleh 10 juta unit kendaraan atau konsumsi energi 6 juta rumah tangga.

Angka ini merepresentasikan sekitar 1 persen dari total emisi nasional Amerika Serikat di seluruh sektor, dengan beban biaya energi yang menyentuh angka US$11 miliar per tahun.

Mills menegaskan bahwa penggunaan rumah kaca berteknologi tinggi dan pabrik tanaman tanpa jendela jauh lebih boros energi dibandingkan budidaya di lahan terbuka maupun bangunan konvensional. Tingkat pemborosan energi pada metode ini bahkan melampaui berbagai industri lainnya.

Data mencatat bahwa dua pertiga dari total 24.000 ton produksi ganja tahunan, baik yang legal maupun ilegal, dilakukan di ruangan tertutup. Praktik ini menuntut penggunaan listrik masif untuk sistem pencahayaan buatan, pengatur suhu, kelembapan, hingga irigasi. Faktanya, sekitar 90 persen emisi industri ini berasal dari operasional budidaya indoor.

Tingkat konsumsi listrik sektor ini di Amerika Serikat bahkan telah melampaui industri penambangan mata uang kripto dan akumulasi seluruh sektor pertanian lainnya. Bagi pengguna harian ganja hasil budidaya indoor, jejak karbon yang dihasilkan bisa mencapai hampir separuh dari total penggunaan energi rumah tangga mereka.

Lebih besar dari emisi tambang batu bara

Dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh budidaya ganja juga diperinci melalui riset dari Colorado State University yang terbit dalam jurnal Nature Sustainability. Jason Quinn, Direktur Sustainability Research Laboratory sekaligus salah satu penulis studi, mengungkapkan bahwa budidaya ganja dalam ruangan di Colorado berkontribusi sekitar 1,7 persen terhadap total emisi gas rumah kaca tahunan di wilayah tersebut.

Ia menyebutkan bahwa angka emisi dari sektor budidaya ini setara dengan dampak yang dihasilkan oleh industri penambangan batu bara.

Pemicu utama emisi tersebut adalah sistem pemanas, ventilasi, dan pendingin udara (HVAC) yang beroperasi terus-menerus untuk menjaga kondisi tanaman. Selain itu, penggunaan lampu tanam berintensitas tinggi dan pasokan karbon dioksida tambahan untuk memacu pertumbuhan tanaman turut memperburuk jejak karbon industri ini.

Studi yang sama juga membandingkan emisi ganja dengan produk konsumsi populer lainnya. Emisi yang dihasilkan dari 0,1 gram ganja, atau sekitar sepertiga dari satu linting, kemungkinan besar melampaui dampak karbon dari segelas bir, anggur, minuman keras, kopi, maupun sebatang rokok.

“Kami sangat terkejut melihat betapa besar dampaknya,” ujar Quinn.

Ia menambahkan, lokasi geografis budidaya sangat berpengaruh terhadap besaran emisi yang dihasilkan. Sebagai contoh, produksi satu ons atau 28 gram ganja kering di Oahu timur, Hawaii, menghasilkan emisi setara dengan pembakaran 60 liter bensin. Angka ini tercatat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tingkat produksi dengan kuantitas yang sama di California selatan.