Ecozone

Inisiasi Jepang-Inggris Ungkap Ribuan Spesies Baru dalam Sensus Laut Global

18
×

Inisiasi Jepang-Inggris Ungkap Ribuan Spesies Baru dalam Sensus Laut Global

Sebarkan artikel ini
1d070c208ce80d71f88e88cbef185f0c.jpg
1d070c208ce80d71f88e88cbef185f0c.jpg

London – Proyek eksplorasi global Ocean Census mencatatkan pencapaian signifikan dengan mengidentifikasi 1.121 spesies laut baru hanya dalam kurun waktu satu tahun. Capaian ini merupakan bagian dari target ambisius untuk mendokumentasikan 100 ribu spesies laut baru dalam satu dekade ke depan.

Inisiatif ini lahir dari kolaborasi antara yayasan filantropi Jepang, The Nippon Foundation, dan organisasi eksplorasi laut asal Inggris, Nekton Foundation. Sejak diluncurkan pada 2023, program ini telah melibatkan jaringan luas yang terdiri dari 1.400 ilmuwan dan ahli taksonomi dari 85 negara.

Ocean Census dirancang untuk mengatasi lambatnya proses identifikasi spesies di dunia sains. Selama ini, sebuah spesies yang ditemukan di alam membutuhkan waktu rata-rata 13,5 tahun sebelum dideskripsikan secara resmi melalui publikasi ilmiah.

Untuk memangkas hambatan tersebut, proyek ini meluncurkan platform data terbuka yang bernama NOVA. Melalui sistem ini, temuan spesies baru dapat dipublikasikan dalam hitungan hari atau pekan setelah identifikasi, tanpa harus menunggu proses penamaan ilmiah formal yang panjang.

Data yang tersedia di platform NOVA diharapkan dapat membantu para pembuat kebijakan, peneliti, dan pengelola konservasi dalam melindungi ekosistem laut. Hingga saat ini, Ocean Census telah merampungkan 13 ekspedisi di berbagai wilayah samudra yang terpencil dan minim eksplorasi.

Salah satu temuan yang mencuri perhatian adalah seekor hiu hantu atau ghost shark di Coral Sea Marine Park, Australia. Ikan dari kelompok chimaera ini ditemukan pada kedalaman lebih dari 800 meter oleh ahli taksonomi William White dari lembaga riset CSIRO.

Meskipun disebut hiu, chimaera sebenarnya adalah kerabat jauh hiu dan pari yang menempuh jalur evolusi berbeda sejak 400 juta tahun lalu. Temuan ini sekaligus menyoroti kerentanan kelompok tersebut, di mana sepertiga dari spesies chimaera saat ini terancam kepunahan.

Selain di perairan dalam, penemuan baru juga terjadi di perairan dangkal Timor-Leste. Ilmuwan menemukan spesies cacing pita laut dari keluarga Drepanophoridae pada kedalaman satu hingga lima meter.

Spesies berukuran di bawah tiga sentimeter ini memiliki warna tubuh mencolok yang diduga berfungsi sebagai sinyal peringatan bagi predator. Ahli biologi laut Svetlana Maslakova mencatat bahwa senyawa kimia pada cacing ini berpotensi dikembangkan menjadi obat-obatan, termasuk terapi untuk penyakit neurologis seperti Alzheimer dan skizofrenia.

Para ilmuwan saat ini memperkirakan baru sekitar 240 ribu spesies laut yang terdeskripsi secara ilmiah, padahal total populasi di lautan diyakini mencapai dua juta spesies atau lebih. Artinya, sekitar 90 persen kehidupan laut hingga kini masih misterius.

Kondisi tersebut diperparah dengan fakta bahwa kurang dari 0,001 persen dasar laut yang pernah diamati langsung oleh manusia. Kepala Sains Ocean Census, Michelle Taylor, menegaskan bahwa dunia sedang berpacu dengan waktu sebelum banyak spesies menghilang akibat kerusakan ekosistem.

Menurut Taylor, percepatan penemuan dan berbagi data secara global menjadi kunci untuk menghasilkan bukti ilmiah yang kuat. Langkah ini sangat krusial dalam mendukung pengembangan sains dan kebijakan perlindungan lingkungan di masa depan.