New York – Indeks S&P 500 dan Nasdaq mencatatkan penurunan signifikan pada perdagangan Selasa (23/6/2026) waktu Amerika Serikat. Kedua indeks acuan tersebut jatuh ke level terendah dalam lebih dari sepekan akibat gelombang aksi jual massal yang melanda sektor semikonduktor.
Tekanan pada bursa saham dipicu oleh langkah investor yang mulai mengantisipasi kebijakan moneter lebih ketat dari bank sentral AS, The Fed. Selain itu, pelaku pasar tengah mencermati tingginya belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang didanai melalui penarikan utang oleh sejumlah perusahaan teknologi.
Jika tren pelemahan ini terus berlanjut hingga penutupan pasar, indeks Nasdaq 100 diperkirakan akan kehilangan nilai kapitalisasi pasar hingga lebih dari US$ 1 triliun. Dampak dari aksi jual ini terasa luas pada emiten-emiten besar di sektor teknologi.
Saham Nvidia dilaporkan merosot 3,7 persen, sementara Alphabet melemah 1 persen. Koreksi tajam juga dialami oleh jajaran produsen chip lainnya seperti Intel, Marvell Technology, dan Advanced Micro Devices (AMD) yang jatuh di kisaran 3,8 persen hingga 9 persen.
Penurunan paling dalam terjadi pada produsen chip memori Micron Technology dan SanDisk, yang masing-masing anjlok 11 persen dan 12,6 persen. Padahal, kedua emiten tersebut sebelumnya tercatat sebagai saham dengan kinerja terbaik dalam indeks S&P 500 sepanjang tahun ini.
Secara sektoral, Indeks Semikonduktor Philadelphia SE ambruk hingga 7,6 persen. Sementara itu, indeks sektor teknologi S&P 500 terpangkas 3,2 persen.
Analis Strategi Investasi di Baird, Ross Mayfield, menjelaskan bahwa perdagangan di sektor ini sebelumnya sangat terkonsentrasi dan didorong oleh arus dana yang deras. Kondisi tersebut membuat sektor teknologi menjadi sangat rentan terhadap perubahan sentimen pasar yang relatif kecil.
Mayfield menambahkan bahwa koreksi ini tidak berkaitan langsung dengan fundamental perkembangan teknologi AI. Menurutnya, fenomena ini merupakan bagian dari aksi ambil untung setelah akumulasi posisi beli yang terlalu padat pada sektor teknologi dalam beberapa bulan terakhir.
Hingga pukul 11:15 waktu setempat, Dow Jones Industrial Average bergerak anomali dengan kenaikan tipis 14,39 poin atau 0,03 persen ke level 51.727,10. Di sisi lain, S&P 500 terkoreksi 83,46 poin atau 1,12 persen ke level 7.389,33 dan Nasdaq Composite anjlok 444,00 poin atau 1,70 persen ke posisi 25.722,61.
Indeks Volatilitas CBOE (VIX), yang mencerminkan kecemasan pasar, naik 2,3 poin ke level tertinggi satu pekan di posisi 19,58. Sementara itu, indeks Russell 2000 yang sangat sensitif terhadap biaya modal juga ikut turun 0,8 persen.
Managing Director Investment Decision Research di SimCorp, Melissa Brown, menyatakan bahwa pasar saat ini cenderung bergerak lebih volatil. Hal ini dipicu oleh potensi lingkungan suku bunga tinggi, kompetisi perebutan likuiditas akibat penawaran umum perdana (IPO) skala besar, serta ketidakpastian harga minyak.
Data LSEG menunjukkan para pelaku pasar kini meningkatkan taruhan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga kedua oleh The Fed pada bulan Desember mendatang. Ekspektasi ini menguat dibanding proyeksi dua minggu lalu yang hanya memperkirakan satu kali kenaikan sebesar 25 basis poin.
Sentimen tersebut muncul seiring pasar yang mulai mengalkulasi kebijakan moneter ketat di bawah kepemimpinan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh. Meski sektor teknologi tertekan, indeks S&P 500 secara agregat masih berada dalam jalur pertumbuhan kuartalan terkuatnya dalam enam tahun terakhir.
Kinerja tersebut ditopang oleh sentimen positif gencatan senjata di Timur Tengah pasca-penangguhan sanksi AS terhadap Iran selama 60 hari, serta rilis laporan laba emiten yang lebih kuat dari ekspektasi. Tekanan pada saham teknologi dengan valuasi tinggi memicu terjadinya rotasi sektor.
Enam dari 11 sektor utama S&P 500 berhasil menguat, dipimpin oleh sektor consumer staples yang naik 1,9 persen karena dinilai lebih defensif. Saham SpaceX milik Elon Musk berhasil rebound 2,1 persen setelah sempat kehilangan nilai pasar US$ 600 miliar dalam tiga sesi sebelumnya.
SpaceX yang baru melantai di bursa awal bulan ini merupakan salah satu perusahaan berkapitalisasi mega yang memanfaatkan pasar obligasi untuk meningkatkan modal kerja. Saham perangkat lunak seperti ServiceNow juga bangkit 4 persen, disusul Adobe, Atlassian, dan Salesforce yang menguat antara 0,9 persen hingga 2 persen.
Dari sisi makroekonomi, data aktivitas manufaktur AS bulan Juni mencatatkan ekspansi selama empat bulan berturut-turut. Namun, serapan tenaga kerja pabrik justru menyentuh level terendah dalam enam tahun. Fokus pasar kini tertuju pada rilis data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) pada Kamis mendatang sebagai acuan utama kebijakan moneter The Fed.







