Berita

Australia Peringatkan El Nino 2026 Bisa Jadi Terkuat dalam 7 Dekade

27
×

Australia Peringatkan El Nino 2026 Bisa Jadi Terkuat dalam 7 Dekade

Sebarkan artikel ini
australia-sebut-el-nino-tahun-ini-bisa-jadi-terkuat-dalam-7-dekade
australia sebut el nino tahun ini bisa jadi terkuat dalam 7 dekade

Jakarta – Biro cuaca Australia pada Selasa (16/6) memperingatkan pola cuaca El Nino telah terbentuk di area tropis di Pasifik. Fenomena ini dinilai berpotensi menguat pada paruh kedua 2026 dan menjadi salah satu yang terkuat dalam tujuh dekade.

Peristiwa cuaca yang lebih kuat itu diperkirakan membawa hujan berlebihan ke Amerika serta kondisi panas dan kering di Asia. Dampaknya dikhawatirkan semakin mengganggu sektor pertanian dan memperbesar kekhawatiran soal pasokan makanan di wilayah terpadat di dunia.

Biro Meteorologi menyebut suhu permukaan laut di kawasan tersebut sudah melampaui ambang batas El Nino. Seluruh indikator atmosfer juga, kata dia, sudah selaras dengan fenomena itu.

“Prakiraan menunjukkan peristiwa El Nino yang kuat hingga sangat kuat, berdasarkan tingkat pemanasan di Pasifik tropis tengah,” tambahnya, diberitakan Reuters.

“Sekitar setengah dari model menunjukkan peristiwa ini dapat mencapai puncaknya pada tingkat tertinggi yang diamati sejak tahun 1950.”

Para ilmuwan menyebut perubahan iklim akan memperkuat dampak El Nino tahun ini. El Nino merupakan pemanasan periodik suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.

Fenomena ini dikaitkan dengan berkurangnya curah hujan pada musim dingin dan musim semi, terutama di pantai timur Australia. Kondisi tersebut juga memicu meningkatnya suhu siang hari di wilayah selatan, menurut biro tersebut.

Bagi Australia, cuaca ini sangat merugikan karena memengaruhi produksi pertanian negara itu. Australia merupakan salah satu pengekspor gandum, gula, dan daging sapi terbesar di dunia.

El Nino terakhir yang dialami Australia pada 2023 hingga 2024 menyebabkan periode tiga bulan terkering yang pernah tercatat. Salah satu peristiwa terkuat serupa pada 2015 dan 2016 juga memicu kekeringan meluas serta menekan produksi biji-bijian dan minyak nabati.