Sleman – Sebuah acara diskusi ilmiah yang dihadiri oleh sejumlah pejabat negara di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM) berakhir ricuh setelah digeruduk dan dibubarkan secara paksa oleh massa mahasiswa. Ketegangan tersebut bahkan berlanjut hingga ke luar gedung, memaksa para pejabat dievakuasi menggunakan mobil pengawalan polisi (patwal).
Diskusi yang mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia” tersebut sedianya menghadirkan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko. Acara ini dipandu oleh dua host dari media Total Politik, yakni Arie Putra dan Budi Adiputro.
Kericuhan mulai pecah saat Budiman Sudjatmiko sedang berbicara di atas panggung mengenai mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM, Tiyo Ardianto. Dalam rekaman video yang beredar, Budiman meminta agar semua pihak tidak melakukan tindakan fisik atau manuver yang dapat membahayakan keselamatan Tiyo.
“Jangan ada yang menyentuh Tiyo. Setersinggung apa pun jangan punya pikiran untuk membuat suatu manuver yang mencelakai dia,” ujar Budiman di hadapan para peserta diskusi.
Tidak berselang lama setelah pernyataan tersebut dilontarkan, sejumlah mahasiswa yang berada di lokasi langsung berdiri dan merangsek maju mendekati area panggung utama. Mereka melayangkan protes keras secara langsung di hadapan para narasumber yang sedang duduk di panggung.
Salah seorang mahasiswa berteriak dengan lantang menuding Budiman Sudjatmiko sebagai pengkhianat perjuangan reformasi. Teriakan tersebut memicu situasi di dalam ruangan menjadi semakin memanas dan tidak kondusif bagi kelangsungan acara.
Melihat situasi yang mulai tidak terkendali, Budi Adiputro selaku pemandu acara berupaya meredam ketegangan dengan menawarkan mikrofon kepada perwakilan mahasiswa. Budi mengajak mereka untuk naik ke atas panggung dan menyampaikan aspirasi secara tertib melalui forum diskusi resmi.
Arie Putra juga turut serta membujuk massa mahasiswa agar mengedepankan dialog yang demokratis ketimbang melakukan aksi penolakan secara sepihak. Ia menantang para mahasiswa untuk membuktikan komitmen mereka terhadap nilai-nilai demokrasi melalui ruang debat yang sehat.
“Kalau Anda pro demokrasi ayo kita dialog,” kata Arie Putra mencoba menenangkan situasi di tengah riuhnya suasana ruangan.
Namun, upaya persuasif dari kedua pemandu acara tersebut tidak membuahkan hasil karena massa mahasiswa tetap menolak berdialog. Mereka justru terus menyuarakan yel-yel revolusi secara serentak serta meneriakkan tudingan bernada sindiran terhadap para pejabat yang hadir.
Para mahasiswa berkali-kali meneriakkan frasa “Satuan Penjilat Prabowo-Gibran” dan menyerukan kata “revolusi” secara berulang-ulang di dalam gedung GIK UGM. Hal ini membuat jalannya diskusi resmi terhenti sepenuhnya karena suara narasumber tertutup oleh teriakan massa.
Budi Adiputro kembali mencoba menenangkan massa dengan meminta agar penyampaian pendapat dilakukan dengan kepala dingin. Ia meminta mahasiswa untuk duduk bersama dan mendiskusikan poin-poin keberatan mereka dengan cara yang baik dan terhormat.
Meskipun demikian, imbauan tersebut diabaikan oleh massa mahasiswa yang tetap menuntut agar acara diskusi tersebut segera dihentikan. Ketegangan yang terjadi di dalam gedung Joglo GIK UGM akhirnya bergeser hingga ke area luar gedung setelah para narasumber memutuskan untuk meninggalkan ruangan.
Di area luar gedung, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid bersama Wakil Menteri Pertanian Sudaryono sempat duduk bersama dengan mahasiswa untuk membuka ruang dialog langsung. Langkah ini diambil guna mendengarkan langsung tuntutan serta kritik yang ingin disampaikan oleh kelompok mahasiswa tersebut.
Dalam kesempatan dialog terbuka di luar ruangan tersebut, salah seorang perwakilan mahasiswa langsung melontarkan pertanyaan kritis terkait kebijakan tata ruang wilayah. Mahasiswa tersebut mempertanyakan tanggung jawab Nusron Wahid atas hilangnya ratusan ribu hektare lahan yang terjadi di sejumlah wilayah.
“Ratusan ribu hektare habis. Siapa yang menentukan tata ruang itu? Bapak kan?,” cecar mahasiswa tersebut dengan nada tinggi kepada Menteri ATR/BPN.
Nusron Wahid kemudian memberikan tanggapan atas tudingan tersebut dengan menantang mahasiswa untuk melihat langsung kondisi riil di lapangan. Ia menawarkan kesempatan kepada mahasiswa untuk ikut serta bersamanya melakukan peninjauan langsung ke wilayah Papua.
“Sekarang gini mas, kalau anda mengatakan saya menggusur Papua, kapan kamu mau tak ajak ke sana,” ujar Nusron menanggapi pertanyaan kritis dari perwakilan mahasiswa tersebut.
Melihat situasi yang kembali memanas dan tidak menemui titik temu, Nusron Wahid beserta Sudaryono akhirnya memutuskan untuk menyudahi dialog tersebut dan beranjak pergi. Keputusan ini memicu aksi kejar-kejaran antara kelompok mahasiswa dan rombongan pejabat negara tersebut.
Guna menghindari gesekan fisik yang lebih fatal, petugas keamanan segera mengevakuasi Nusron Wahid dan Sudaryono dari area kampus UGM. Kedua pejabat negara tersebut beserta rombongannya langsung meninggalkan lokasi kejadian dengan menggunakan mobil pengawalan polisi (patwal).
Hingga berita ini diturunkan, pihak rektorat Universitas Gadjah Mada belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden pembubaran diskusi di lingkungan kampus mereka. Upaya konfirmasi telah dilakukan kepada sejumlah pejabat struktural universitas tersebut.
Sekretaris UGM Andi Sandi Antonius Tabusassa Tonralipu serta Juru Bicara UGM I Made Andi Arsana telah dihubungi untuk dimintai keterangan mengenai kronologi dan sikap universitas atas peristiwa ini. Namun, kedua pejabat rektorat tersebut belum memberikan respons resmi terkait insiden yang melibatkan mahasiswa dan menteri kabinet tersebut.







