Berita

Ilmuwan Petakan 166 Ribu Km Persegi Terumbu Karang Tahan Krisis Iklim

15
×

Ilmuwan Petakan 166 Ribu Km Persegi Terumbu Karang Tahan Krisis Iklim

Sebarkan artikel ini
ilmuwan-temukan-166-ribu-km-persegi-terumbu-karang-tahan-krisis-iklim
ilmuwan temukan 166 ribu km persegi terumbu karang tahan krisis iklim

Jakarta – Tidak semua terumbu karang berada di ambang kepunahan. Di tengah ancaman pemanasan global yang terus meningkat, para ilmuwan menemukan secercah harapan bagi salah satu ekosistem laut yang paling rentan terhadap perubahan iklim.

Penelitian terbaru mengidentifikasi hampir 166 ribu kilometer persegi terumbu karang di berbagai belahan dunia yang dinilai mampu bertahan hidup dan pulih dari dampak krisis iklim. Luas wilayah itu hampir tiga kali lipat lebih besar dibanding perkiraan sebelumnya tentang kawasan terumbu karang yang memiliki ketahanan alami terhadap perubahan lingkungan.

Temuan ini menjadi kabar baik bagi masa depan lautan. Terumbu karang diketahui menopang sekitar seperempat kehidupan laut dunia, sekaligus menjadi sumber pangan, pelindung pesisir, dan mata pencaharian bagi jutaan orang.

Namun, dalam beberapa dekade terakhir, ekosistem ini terus menghadapi tekanan berat akibat badai tropis yang makin kuat, pencemaran, dan fenomena pemutihan karang atau coral bleaching yang dipicu kenaikan suhu laut. Sejumlah ilmuwan bahkan memperingatkan sebagian terumbu karang bisa mengalami kerusakan permanen jika pemanasan global tidak segera ditekan.

Melansir CNA, penelitian tersebut dilakukan dengan menganalisis sekitar 45 ribu survei terumbu karang yang dipadukan dengan data iklim dan kondisi laut selama puluhan tahun. Dari hasil itu, para peneliti memetakan kawasan-kawasan terumbu karang yang relatif lebih tangguh menghadapi perubahan iklim.

Wilayah-wilayah tersebut tersebar di 71 negara dan lebih dari 100 teritori. Sebagiannya berada di kawasan Karibia, serta di beberapa bagian Samudra Pasifik dan Atlantik yang sebelumnya belum pernah diidentifikasi sebagai habitat karang yang resilien.

Direktur konservasi karang Wildlife Conservation Society (WCS), Emily Darling, mengatakan terumbu karang selama ini kerap dipandang sebagai ekosistem yang tak lagi dapat diselamatkan.

“Penelitian ini menunjukkan sebaliknya. Kita kini mengetahui di mana letak harapan itu berada, dan yang dibutuhkan saat ini adalah kemauan politik untuk melindunginya,” kata Darling.

Menurut dia, hasil penelitian tersebut dapat menjadi panduan penting bagi pemerintah di berbagai negara dalam menentukan prioritas perlindungan laut.

Peta baru untuk konservasi laut

Saat ini, banyak negara tengah menyusun strategi untuk mencapai target konservasi global yang dikenal sebagai ’30 by 30′, yakni melindungi 30 persen wilayah daratan dan lautan pada akhir dekade ini.

Data terbaru mengenai lokasi terumbu karang yang tahan terhadap perubahan iklim diyakini akan membantu proses perencanaan tersebut. Pemerintah dapat mengintegrasikan kawasan-kawasan penting itu ke dalam wilayah konservasi yang memiliki perlindungan hukum.

Darling mengungkapkan, saat ini hanya sekitar 28 persen dari terumbu karang yang teridentifikasi tersebut berada di kawasan lindung atau area konservasi.

“Kesempatannya sangat jelas, begitu juga urgensinya, terutama ketika kita menghadapi potensi peristiwa super El Nino berikutnya,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu penulis studi sekaligus Direktur Eksekutif Program Kelautan Global WCS, Stacy Jupiter, mengatakan hasil penelitian ini juga dapat membantu pemerintah menentukan penggunaan anggaran konservasi yang terbatas.

Menurutnya, kawasan terumbu karang yang terbukti lebih tangguh dapat menjadi prioritas utama untuk mendapatkan perlindungan dan investasi pemulihan.

Di sisi lain, sejumlah wilayah yang kondisinya sudah terlalu rusak mungkin memerlukan pendekatan berbeda.

“Dalam beberapa kasus, ketika terumbu karang sudah berada di bawah ambang fungsi ekosistem tertentu, mungkin diperlukan pendekatan triase. Artinya, sumber daya yang tersedia perlu difokuskan pada lokasi yang memiliki peluang bertahan lebih besar,” kata Jupiter.